Selasa, 27 Desember 2011

Bekerjalah, Maka Keajaiban

karya salim a fillah yg membuatku terpesona..


Iman itu terkadang menggelisahkan.

Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”
Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.
Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?
Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.
Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.
Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”
Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;
..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah

Yakinlah dan Pejamkan Matamu...

iman adalah mata yang terbuka,
mendahului datangnya cahaya
tapi jika terlalu silau, pejamkan saja
lalu rasakan hangatnya keajaiban

Saya tertakjub membaca kisah ini; bahwa Sang Nabi hari itu berdoa.
Di padang Badr yang tandus dan kering, semak durinya yang memerah dan langitnya yang cerah, sesaat kesunyian mendesing. Dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh ‘aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebathilan. Ini hari penentuan akankah keberwujudan mereka berlanjut.

Doa itulah yang mencenungkan saya. “Ya Allah”, lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.

Andai boleh lancang, saya menyebutnya doa yang mengancam. Dan Abu Bakr, lelaki dengan iman tanpa retak itu punya kalimat yang jauh lebih santun untuk menggambarkan perasaan saya. “Sudahlah Ya Rasulallah”, bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janjiNya padamu!”
Doa itu telah menerbitkan sejuta tanya di hati saya. Ringkasnya; mengapa begitu bunyinya? Tetapi kemudian, saya membaca lagi dengan sama takjubnya pinta Ibrahim, kekasih Allah itu. “Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu katanya. Ah ya.. Saya menangkap getar yang sama. Saya menangkap nada yang serupa. Itu iman. Itu iman yang gelisah.

Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.

Kita tahu, di Badr hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Berbeda dari Sang Nabi, kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikitpun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.

Itukah keyakinan yang sempurna? Bukan. Itu justru kenaïfan. Naif sekali.
Mari bedakan kedua hal ini. Yakin dan naïf. Bahwa dua manusia yang dijamin sebagai teladan terbaik oleh Al Quran memiliki keyakinan yang menghunjam dalam hati, dan keyakinan itu justru sangat manusiawi. Sementara kenaifan telah diajarkan Iblis; untuk menilai sesuatu dari asal penciptaan lalu penilaian itu menghalangi ketaatan pada PenciptaNya. Atau seperti Abu Jahl; rela binasa daripada mengakui kebenaran tak di pihaknya. Atau seperti Khawarij yang diperangi ‘Ali; selalu bicara dengan ayat-ayat suci, tapi lisan dan tangan menyakiti dan menganiaya muslim lain tanpa henti. Khawarij yang selalu berteriak, “Hukum itu hanya milik Allah!”, sekedar untuk menghalangi kaum muslimin berdamai lagi dan mengupayakan kemashlahatan yang lebih besar. Mencita-citakan tegaknya Din, memisahkan diri di Harura dari kumpulan besar muslimin, dan merasa bahwa segala masalah akan selesai dengan kalimat-kalimat. Itu naïf.

Dan beginilah kehidupan para peyakin sejati; tak hanya satu saat dalam kehidupannya, Ibrahim sebagai ayah dan suami, Rasul dan Nabi, harus mengalami pertarungan batin yang sengit. Saat ia diminta meninggalkan isteri dan anaknya berulang kali dia ditanya Hajar mengapa. Dan dia hanya terdiam, menghela nafas panjang, sembari memejamkan mata. Juga ketika dia harus menyembelih Isma’il. Siapa yang bisa meredam kemanusiaannya, kebapakannya, juga rasa sayang dan cintanya pada sesibir tulang yang dinanti dengan berpuluh tahun menghitung hari.
Dan dia memejamkan mata. Lagi-lagi memejamkan mata.

Yang dialami para peyakin sejati agaknya adalah sebuah keterhijaban akan masa depan. Mereka tak tahu apa sesudah itu. Yang mereka tahu saat ini bahwa ada perintah Ilahi untuk begini. Dan iman mereka selalu mengiang-ngiangkan satu kaidah suci, “Jika ini perintah Ilahi, Dia takkan pernah menyia-nyiakan iman dan amal kami.” Lalu mereka bertindak. Mereka padukan tekad untuk taat dengan rasa hati yang kadang masih berat. Mereka satukan keberanian melangkah dengan gelora jiwa yang bertanya-tanya.

Perpaduan itu membuat mereka memejamkan mata. Ya, memejamkan mata.
Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi. Mereka harus bersikap di tengah keterhijaban akan masa depan. Cahaya itu belum datang, atau justru terlalu menyilaukan. Tapi mereka harus mengerjakan perintahNya. Seperti Nuh harus membuat kapal, seperti Ibrahim harus menyembelih Isma’il, seperti Musa harus menghadapi Fir’aun dengan lisan gagap dan dosa membunuh, seperti Muhammad dan para sahabatnya harus mengayunkan pedang-pedang mereka pada kerabat yang terikat darah namun terpisah oleh ‘aqidah.

Para pengemban da’wah, jika ada perintahNya yang berat bagi kita, mari pejamkan mata untuk menyempurnakan keterhijaban kita. Lalu kerjakan. Mengerja sambil memejam mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. Tangan yang menuliskan perintah sekaligus mengatur segalanya jadi indah. Tangan yang menuliskan musibah dan kesulitan sebagai sisipan bagi nikmat dan kemudahan. Tangan yang mencipta kita, dan padaNya jua kita akan pulang..

Minggu, 18 Desember 2011

..Aku, Kalian dan Sepasang Sepatu Kita..


"kriiiiiiiiiiiiiiiiiingngggg......"
hoamm.. suara alarm HP ini cukup untuk memekakan telingaku. mungkin juga telinga teman-telinga sekostnku..
ada yg bangun, ada juga yg tetap tertidur dg buaian mimpinya hingga harus membutuhkan treatment ekstra untuk membangunkanya..
jam di ponsel menunjukkan pukul 02.30.. brrrrrr.. dingiin!!!
sesuatu yg wajar karna embun pun masih menari-nari diatas dedaunan..

Air surga yang selalu diupayakan agar membasahi wajah ini di sepertiga malam merupakan sesuatu yg luar biasa menyegarkan..
seperti biasa rakaat demi rakaat senantiasa ditegakkan dengan nyanyian surat yg merupakan pengingatan atas hapalan.. maklum pelupa!! kalo tidak di ulang2 bisa-bisa hilang perlahan demi perlahan.. mana relaa!! karna menghapalkanya butuh pengorbanan..

setiap sujud demi sujud entah mengapa selalu saja air mata ini menetes tanpa ada yg memaksanya..terlebih khusus sejak 2 minggu terakhir ini..
tenang..teduh.. dan syahdu itu adalah sebuah perpaduan indah yg kurasa disetiap 1/3 malam..

"Allah,, padamu hamba memasrahkan diri.. pada setiap ketetapan ataupun ketentuanMU..
Hamba ridho Allah atas taqdir yang kau goreskan di atas kanvas kehidupanku..
sungguh berada di jalan ini membuatku tidak bisa bertahan tanpaMU..
Hamba Lemah ALLAH..
terkadang Iman Hamba rapuh..

sunggu padaMU ku gantungkan semua harapan atas kemudahan dakwahku..
padamu ku tancapkan impian atas keutuhan Jamaah ini..
Kaulah sandaraanku saat semua seakan tak memberi arti..
Kaulah harapanku saat semua seakan tak berarti..

padamu Allah kuharap langkah ini takkaan pernah berhenti..
Padamu Allah kuharap Azzam Ini takkan pernah Mati..

Ya muqolibal Qulub.. wahai yg membolak balikkan hati.. kembalikan mereka ke sisi kami.. kembalikan semangat mereka untuk menemani perjuangan kami.. "


bait demi bait doa kulantunkan dengan penuh ketundukan..
sungguh diri ini benar-benar lemah tak berdaya..
sungguh diri ini benar-benar pasrah..

apa yg bisa kita lakukan ketika kita berbicara tentang hati manusia??
hanya  Sang Pemilik Hati lah yang mampu menggerakkanya..
"kun!!" maka tidak ada yg mustahil bagiNYA..

kubaca bait-bait doa rabbitah dari samudra hati yang terdalam.. berharap agar ikatan ini akan semakin erat apapun keadaanya.. dan derasnya air dari telaga kerinduan tak mampu ku bendung.. Allah, sungguh malam ini hanya Engkau penguatku..

Tidak cukup dengan doa, hati ini haus akan ketenangan,,
maka, kubaca bait-demi bait huruf cinta ini..
pada sebuah mushaf yg menjadi saksi bisu atas Hati ini..


Subuh menjelang,,
sholat berjamaah adalah sebuah rutinitas yg paling indah di kehidupan kampus ini..
dulu mungkin ini adalah hal sepele bagiku,, tp kini hal ini adalah yg paling berarti bagiku setelah amalan2 lainya yang tidak kalah penting berartinya..


"ting..tong..ting..tong"
Hp berdering tanda ada sebuah pesan masuk..

"Assalam. Menginggatkan kembali agenda kita pagi ini di tempat biasa.. jangan telat n persiapkan JRF nya sebelum hadir..jzk. waslm"

sebuah rutinitas yg biasa kami lakukan.. mungkin dulu tidak biasa namun kini hal tersebut adalah suplemen semangat sebelum buku-buku kuliah dan kumpulan diktat dilahap oleh otak kiri dan kanan..
 tapii.. ada yg berbeda!!
entah mengapa aku merasa tidak bersemangat menghadirinya..
karna diri ini lagi2 takut kecewa ketika pasangan sepatu yg dilihat hanya itu2 saja belakangan terakhir ini..

"baittul jannah" ini merindukan kalian.. kapan kalian kembali?? bisikku pilu dalam hati..
kapan pasangan sepatu kalian melengkapi pasangan sepatu kami..
wahai hati yg di sudut sana, kami merindukkan kalian..
kami merindukan ide-ide brilian kalian untuk perbaikkan umat ini..

sejenak aku berfikir untuk enggan beranjak.. namun, entah mengapa tiba-tiba terlintas wajah-wajah polos mad'u-mad'u dakwah.. terlintas wajah para pendahulu ku, terlintas wajah sang murobbi plus dengan semua taujih yg telah diberikanya dengan tulus..

bodoh!! apa yang kufikirkan.. biarkanlah beberapa pasang sepatu lainya beristirahat sejenak, sungguh mereka bukan pecundang yg mundur dari masalah..merka hanya butuh waktu mengobati luka yg ada.. mereka hanya butuh waktu untuk mencari oase hatinya yg telah mengering.. dan yang pasti mereka hanya butuh waktu untuk mengumpulkan semangat-semangat yg bahkan mungkin lebih dari yg kami miliki..

akhirnya dengan mantap dan yakin semata-mata karna MARDHOTILLAH kulangkahkan kaki ini ke baitul jannah yg sudah menunggu..

sepanjang perjalanan diri ini selalu berdoa agar sepatu yg berjajar bisa lengkap seperti sedia kala, namun sesampainya di sana, tiba-tiba buliran air ini tak kuasa dibendung..
Allah, lagi-lagi hanya sepasang sepatu-sepatu ini yg kutemui..
sungguh diri ini sudah terlalu rindu rabb pada sosok-sosok yg dulu menghiasi majelis umat ini..

pada bumi yang di pijak.. pada langit yg menaungi.. sungguh setiap serpihan mozaik ini takkan indah tanpa kalian disini..

pada sepasang sepatu yg senantiasa memberikan pencerahan atas kondisi umat ini.. pada sepasang sepatu yg kehadiranya mengobarkan semangat dlm dada ini.. pada sepasang sepatu yg ketawadhuanya mampu menasihati sombongnya diri ini.. pada pasangan2 sepatu yg semua keistimewaanya mampu menjadikan jalan ini begitu mudah dan indah..

yaa.. aku sungguh sangat yakin padaMU wahai Zat yang jiwaku berada dalam genggaman.. akan ada saat dimana Engkau mengembalikan mereka ke sisi kami untuk sekarang dan selamanya.. kami hanya harus berikhtiar menyetuh hati dengan kelembutan dan ketulusan semata-mata karnaMU.. Bukan hanya hati mereka namun juga hati dari diri kami masing-masing.. dan doa padamu sungguh adalah senjata satu-satunya yg kami miliki..

dan benar saja.. FASBIR INNA WA'DALLAHI HAQQO.. sesungguhnya janji Allah itu Benar!!!
Tidak butuh waktu bagi allah untuk mengimplementasikan sebuah doa dalam waktu yg lama.. jika ia berkehendak KUN!! maka semua bisa terjadi..

kini semua pasangan sepatu itu berjajar dengan rapih di sebuah halaman yang menjadi saksi bisu atas kecintaan sekelompok pemuda yang menjual hidupnya pada Allah, Rasul dan Dien ini.. sekelompok pemuda yang kecintaanya pada Jalan ini melebihi kecintaanya pada dirinya sendiri..
pada halaman yang menjadi saksi bisu atas segala amarah, tangis, canda, dan tawa..dan pada halaman yang menjadi saksi bisu atas semua pengorbanan dan ketulusan yang dipersembahkan..

Rabb,,
ASHADU BII ANA MUSLIMIN,,
saksikanlah bahwa kami adalah seorang MUSLIM..
Saksikanlah bahwa kami adalah seorang Dai..
dan saksikanlah bahwa kami adalah seorang Aktivis..



DAN SAAT INI,,,,,,


waktu berlalu begitu cepat..
kini semua menjadi kenangan indah dalam goresan perjuangan kami..
menjadi sebuah cerita cinta yang berlayar di birunya samudra hati kami..

Cerita tentang AKU, KALIAN dan SEPASANG SEPATU KITA....

Sabtu, 17 Desember 2011

Embun Jiwaku


“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran“ ~KH. Rahmat Abdulloh~
 
“Apa kabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk tawadhu dipucuk- pucuk daun? Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian. Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang? Terang benderang menerangi kehidupan. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu, saudaraku”.
 
“Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berda di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah!”
 
“Jangan takut untuk mengabil langkah besar hari ini, Jika memang dibutuhkan!! Jurang tak bisa disebrangi hanya dengan 2,3 lompatan kecil!! Nahnu Duat Fii Kulli Zaman”.

Beban Dakwah hanya dapat diberikan oleh mereka yang memahami dan memeberikan apa saja yang kelak di tuntutnya ; Waktu, Kesehatan, Harta, Bahkan Darah. Mereka Bergadang saat semua tertidur lelap. Mereka gelisah saat yang lain lengah. Seakan-akan lisannya yang suci Berkata , “Tidak ada yang kuharap dari kalian. Aku hanya mengharap pahala Allah” ~Hasan Al Banna~

“Ana harap, seperti tulisan antum, militansi dakwah tetap dipegang erat, bagaimana kita sabar, tsabat dengan keadaan yang ada, karena ini ujian, kondisi seperti apapun, saat ikhlas dalam dakwah senantiasa kita pegang, tak akan pernah melemahkan dan menggoyahkan diri kita untuk terus bersamanya, afwan atas segala kata yang kurang berkenan”. ~Murobbi~

“Insya Allah, masa depan yang gemilang itu, kejayaan yang pernah hilang ditangan kita, akan dapat kita kembalikan lagi. Dan saya berharap Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini”. ~DR. Yusuf Al Qardhawi~
 
“Bukannya seorang dai, mereka yang mengeluh tentang sulitnya merubah kondisi masyarakat. Ia bukannya dokter, ia hanya orang yang berpakaian dokter tapi jijik melihat luka besar yang harus diobatinya”. ~KH. Rahmat Abdullah~
 
“Kalau betul-betul mau melahirkan orang-orang yang menjadi agent of change dalam arti pioneer yang siap menannggung beban yang terberat sekalipun, maka tidak bisa tidak, jalan yang ditempuh adalah kembali kepola Tarbiyah Rasulullah. Kuatnya dakwah bertumpu pada kekuatan Tarbiyah”. ~Ust. H.M Ihsan Arlansyah Tanjung~

„Saya akan mengatakan kepada seluruh aktivis muslim, jangan pernah mereka merasa sempurna. Karena stiap kali orang merasa sempurna, saat itu ia berhenti bertumbuh. Dia berhenti berkembabng..” ~Ust. H.M Anis Matta, Lc~

”Ada hal yang perlu diingat, bahwa sebuah jamaah atau organisasi dakwah berkembang dengan pesat kalau didalamnya terdapat pribadi-pribadi yang kreatif, Ada pribadi-pribadi yang melakukan sesuatu yang baru”. ~Ust. Ahmad Madyani. Lc~
 
”Dai yang tidak punya bekalan ruhiyah, akan mengalami kelemahan. Jika ia sudah merasa berda’wah namun tidak berhasil, ia akan menganggap dirinya sudah tidak layak lagi berda’wah dan akhirnya berganti arah.” ~Ust. Zufar Bawazier, Lc~

Teruntuk mujahid da’wah pilihan : “Terkadang hak-hak pribadi kita tidak dapat kita penuhi. Jangan bertanya kemana yang lain. Jangan bertanya kenapa kita sendiri. Jangan mengingat apa yang telah kita korbankan. Jangan mengharap apa yang akan kita dapatkan. Karena sesungguhnya Allah telah memilih diri-diri ini. Maka ikhlaskanlah”
 
Saudaraku…“Sungguh.., kekuatan ruhiyah dan jasadiyah serta amanah adalah modal istiqamah dijalan da’wah”

“Hidup seorang mukmin adalah program perbaikan diri yang tertata hingga menemui Allah dalam kondisi yang terbaik”. Semoga Allah memberkahi langkah-langkah kita. Amiin.

“Selalu ada harapan dalam keyakinan, selalu ada keteguhan dalam kesabaran, selalu ada hikmah dalam kesyukuran dan selalu ada keniscayaan dalam doa”.
 
”Untuk saudaraku yang tak pernah lelah dan putus asa. Buat dia tersenyum hingga disyurga kelak ya rabb. Allahlah yang akan menjadi muara segala beban yang menghimpit jiwa kita. Rabb..kutkan pancangan kakinya dijalan_Mu”.
 
“Jika da’wah adalah jalan yang panjang, Jangan pernah berhenti sebelum menemukan ujungnya. Jika da’wah adalah bebannya berat Jangan minta yang ringan. Tapi mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya. Jika pendukungnya sedikit…maka jadilah yang sedikit itu”.
 
“Orang sukses mengunakan tubuhnya untuk ikhtiar, otaknya untuk berfikir kreatif dan hatinya untuk bertawakal kepada-Nya”.
 
“Seorang mujahid adalah mereka yang selalu termotivasi, ketika yang lain berjatuhan maka ia tetap tegar. Sungguh jalan yang ditempuh masih panjang dan banyak aral menghadang. Yakunlah bahwa Allah maha penepat janji. Sekencang aral menghadang tetap Allah didalam hati kita”.
 
“Bersemangatlah pada apa saja yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah pada Allah dan jangan merasa tidak mampu.” ~HR. Imam Muslim~.
 
” Kehidupan seorang mukmin layaknya mentari. Selalu hidup bersinar dan tak pernah hilang. Ia terbenam disatu wilayah untuk terbit diwilayah berikutnya. Datang menyinari memberi kemanfaatan dan rasa damai”.
 
“Hanya orang besar yang berani berfikir dan bertindak besar. Maka Allah titipkan amanah dan perkara besar. Mintalah energi besar pada yang Maha besar untuk menyelesaikan semuanya”.
 
“Jangan pernah berhenti mengepakan sayapmu saudaraku. Biarkan cobaan itu membuatmu kuat, Biarkan derasnya terpaan itu membuatmu gesit berkelit, Biarkan jiwa-jiwa pemenang itu memenuhi hatimu, Biarkan jiwa-jiwa sabar itu menjadi penyejuk bagimu”.
 
“Ya, Allah tambahkanlah untuk kami keikhlasan niat, kedalaman ilmu, kelapangan hati, kebersihan jiwa, kejernihan pikiran, lautan kesabaran, samudra kelembutan serta indahnya cinta dan kasih sayang dalam ukhuwah…” Tetap semangat Ikhwah!
 
“Menjadi orang-orang pilihan dalam da’wah, berarti meletakkan pondasi keikhlasan dalam ber’amal. Maka teguhkanlah azzam dalam hati. Berjuang itu indah, Berkorban itu nikmat.” Allah will always with you

“Keberhasilan kita tidak diukur oleh seberapa banyak apa yang kita miliki, melainkan oleh berapa banyak orang yang merasakan manfaat keberadaan kita.”

“Bahkan dalam letihpun para mujahid tetap tersenyum karena apa yang kita tunaikan menjadi jaminan bermaknanya usia. “Semoga awal semester yang diiringi dengan semangat ramadhan, bisa membawa keberkahan untuk usaha dan hasil yang terbaik. New Spirit Be Better Person!”

“Mencari Spirit yang hilang, tertatihku dibelantara dunia, menanti seberkas cahaya, jiwa-jiwa lelah ditengah perjalanan panjang, bilakah kemenangan itu datang?” Sesungguhnya kemenangan selalu seiring dengan pengorbanan,,dan keikhlasan, kesabaran diatas kesabaran adalah kunci kekuatan, sudikah diri menjadi kafilah yang digantikan?”

“Para pemburu syurga tidak akan berhenti pada tahap mimpi. Ada asa yang harus diwujudkan, Ada pengorbanan yang harus dikeluarkan. Ada amal dan karya nyata yang harus dipersembahkan.”
 
” Selayaknya bagi jiwa-jiwa yang mengazamkan dirinya pada jalan ini. Maenjadikan da’wah sebagai laku utama, dialah visi, dialah misi, dialah obsesi, dialah yang mengelayuti disetiap desahan nafas, dialah yang mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridho dan maghfiroh Tuhannya.”
“Ada yang mengeluh, merasa jenuh, ingin gugur dan jatuh ia berkata “lelah!”. Ada juga yang lelah, tubuhnya penat tapi semangatnya kuat. Ia berkata “lillah!”, karena Allah, Ikhlaskanlah. Tetap semangat pejuang-pejuang Allah”
 
“Memelihara pandangan mata menjamin kebahagiaan seorang hamba didunia dan akhirat. Memelihara pandangan, memberi nuansa kedekatan seorang hamba kepada Allah, menahan pandangan juga bisa menguatkan hati dan membuat seseorang lebih merasa bahagia, menahan pandangan juga akan menghalangi pintu masuk syaithan kedalam hati. Mengkosongkan hati untuk berfikir pada sesuatu yang bermanfaat. Allah akan meliputinya dengan cahaya, itu sebabnya setelah firmannya tentang perintah mengendalikan pandangan mata dari yang haram, Allah segera menyambungnya dengan ayat nur (cahaya)”. ~Ibnu Qayyim~. Sebuah perenungan untuk diri.
 
“Suplai bantuan Allah, tidak berlaku bagi orang yang dikuasai hawanafsunya dan mengikuti syahwatnya”. ~Fudhail bin Iyadh~
 
Ustadz Mashadi ::. ”Bila benar-benar kita mukmin, ikhwah, apalagi qiyadah pasti akan mendasarkan pada paradigma berpikir yang bersifat ketuhanan (manhaj tafkir rabbani) juga. Sehingga sikap al wala wal baro’nya sangatlah jelas, tidak confused dan talbiz. Manhaj Tuhan itu (Islam) telah menyediakan bagi para da’i/ aktivis satu manhaj tersendiri dalam berpikir dan bertindak, yang mampu menghindarkan keterjerumusan dalam kehidupan jahiliyah. Di manakah posisi kita hari ini? Apakah masih tergolong orang-orang yang tsabat dengan manhaj rabbani atau telah tersungkur ke dalam barisan pengejar rente kekuasaan? dan pasti akan hina di mata manusia dan di sisi Allah”

Ustadz Farid Nu’man ::. ”Hendaklah mereka malu kepada Allah Ta’ala, dan kalau pun sudah tidak malu kepada Allah Ta’ala, malu-lah kepada malaikat sang pencatat, kalau pun tidak malu kepada malaikat, malu-lah kepada manusia, kalau pun tidak malu kepada manusia, malu-lah kepada keluarga di rumah, kalau pun tidak malu kepada keluarga, maka malu-lah kepada diri sendiri dan hendaklah jujur bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan, minimal meragukan. Fitrah keimanan akan menolaknya, kecuali jika memang sudah taraf Imanuhum fi Proyekihim”
 
Ustadz Dr. Daud Rasyid, MA ::. „Kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap keruntuhan ma’nawiyah (jati diri) nya di hadapan orang lain. Apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi Saw menyuruh ummatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia?“

“Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara berorientasi kepada kekuasaan. Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya. Lalu tertidur-tidur, tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap dia harus kembali kepada akar masalahnya, akar tarbiyahnya. Tempat kancah dia dibangun.
Imam Hasan Al Banna

Saat Keimanannya Menyentuh Lembut Hatimu...

Ukhti fillah yang dicintai Allah…, kaifa haluki wa kaifa imanuki ? ana berharap anti dalam keadaan khoir wal ‘afiyah. Begitu juga hati dan iman anti -yang saat lalu anti mengadu bahwa ia sedang ‘sakit’ dan yanqush- semoga Allah memberikan cahaya-Nya dan melembutkannya dengan belaian kasih sayang-Nya dan rahmat-Nya.

Ukhti, risalah ini sengaja ana tulis untuk anti berkaitan dengan curhat anti tempo hati mengenai ‘amburadulnya’ kondisi ruhiyah anti karena terlalu seringnya anti bekerjasama dan bermuamalah dengan seorang ikhwan, partner dakwah anti.


Ukh, ana memahami kondisi anti sebagai aktivis dakwah yang mau tidak mau mengharuskan anti untuk menjalin komunikasi dengan ikhwan, yang notabene anti adalah sosok yang cukup sensitif dan rawan jika harus berinteraksi dengan mereka. Ikhwan -dengan segala predikat dan atribut yang melekat padanya- ternyata bisa membuat sebuah ‘variasi’ tersendiri bagi warna-warni perjalanan hati seorang akhwat (bahkan yang sudah ‘ngaji’ lama dan sudah ‘mudeng’-nggak nyindir loh ?!). Well, terbukti bukan hanya akhwat yang bisa menjadi sumber fitnah, ternyata ikhwan juga.

Ukhti…, terus terang ana memang tidak menafikan adanya different bear yang menjalari hati ketika harus berkomunikasi dengan lawan jenis yang berembel-embel ikhwan (dan pastinya belum menikah) itu. Dan sepertinya…hampir tiap akhwat maupun ikhwan pun demikian, diakui atau tidak. entah kenapa. mungkin seperti yang ana katakan tadi, wilayah ini memang sangat rawan. Dangerous area, mungkin itu sebutan yang pas, bahkan kalau boleh ana gambarkan, ikwan dan akhwat itu ibarat magnet yang memiliki dua kutub berbeda yang saling tarik menarik dengan daya magnetis yang tinggi (yang kalau tidak dijaga benar-benar bisa fatal).

Dalam kesempatan ini ana tidak akan mengemukakan hal-hal yang bersifat ‘teoritik’ sebagai feedback terhadap aduan anti yang lalu. dan afwan jika risalah ini cukup ‘keras’. Karena ana sadar betul anti bukanlah ‘akwat kemaren sore’ yang belum tahu apa-apa.  dan ana juga yakin benar, anti pun sudah faham ilmunya (apalagi predikat sebagai aktivis dakwah dan da’iyah tersandang dalam sosok anti, sehingga membuat ana semakin yakin tentang kefahaman anti, begitu khan ?)

Ukhti fillah yang ana cintai…, ana mengakui bahwa membangun komunikasi dengan ikhwan memang berat. bukan berat di fisik namun di hati. awalnya memang bisa untuk bertahan….tapi lama kelamaan timbul simpati….dan bisa-bisa akhirnya ada ‘rasa’ yang lain….indefinable feeling…,apalagi jika harus banyak-banyak berinteraksi dengan mereka, apalagi kalau sudah menyinggung masalah-masalah pribadi, bahkan sampai curhat segala, plus sering-sering bertemu dan melihat. waah bisa ancur hati dan iman anti (wal iyazhu billah !) berat memang ketika harus menjalin hubungan dengan mereka, hatta mengatasnamakan kepentingan dakwah. berat banget, ukh !

Itulah…kalau memang anti sudah tak kuasa membendung gharizatun nau’ anti terhadap ikhwan tersebut, langkah yang paling afdhol adalah memutuskan hubungan dengan dia. Hentikan komunikasi. Disconnect ! hindari celah-celah yang dapat menjadi sarana untuk berinteraksi dengan dia.  Jauhi dia, ukh ! no more interaction, stop here !! itu adalah jurus jitu untuk menyelamatkan hati dan iman anti, jika anti benar-benar ingin selamat.

Dan jika memang benar anti tidak bisa menghentikan secara total hubungannya dengan dia dengan alasan anti tidak ingin surut dari belantara dakwah  dan ingin tetap melaksanakan amanah anti dalam dakwah tersebut, maka yang harus anti lakukan adalah melawan ‘virus merah jambu’ yang menyerang anti. anti harus berusaha keras untuk fight ! jangan biarkan ia menguasai hati dan menggerogoti keistiqomahan anti.  Jangan biarkan ia terus menerus menginvasi. LAWAN, UKHT ! LAWAN !!!

Ukh, jika anti memang meniatkan diri -ketika menjalin kontak dengan dia dan mereka- adalah untuk dakwah, maka jangan ada muatan lain selain untuk kemaslahatan dakwah (anti nggak mau kan termasuk orang-orang yang mengatasnamakan kepentingan dakwah untuk tendensi-tendensi pribadi ?! jaga arah hati dan…waspada !!!).

Ukhtiku yang ana cintai….masalah dalam iqomatuddin itu buaanyaak dan seabrek ! coba anti lihat wajah umat hari ini, betapa banyak masalah mereka yang harus ditangani. anti lihat wajah generasi penerus kita, anti lihat dien kita saat ini ?! mereka membutuhkan ‘kerja’ kita ukh. mereka memerlukan sumbangan tenaga, pikiran, waktu dan seluruh potensi kita.

Tidakkah anti berfikir tentang tangisan pilu saudara-saudara muslim yang dibantai, dianiaya, diteror dan diintimidasi ? tidakkah anti mendengar jeritan para ummahat dan anak-anak yang menjadi sasaran peluru dan peledak ? akankah anti sibuk dengan ‘urusan sepele’ tersebut sementara para ikhwah seperjuangan mati-matian untuk mempertahankan dien dan izzah mereka….akankah anti ‘bermain-main dengan perasaan anti dan terjebak di dalamnya’ sementara ma’rakatul jihad dan medan-medan konflik dipenuhi dengan genangan air mata dan darah para syuhada’ ?! renungilah ukh…..RENUNGI DAN FAHAMI ! masih banyak yang harus kita fikirkan, masih banyak hal-hal yang lebih pantas menyita ruang fikir kita daripada hal-hal sepele seperti itu….masalah-masalah iqomatuddin jauuuh lebih besar dari masalah-masalah semacam itu…sekali lagi, RENUNGI DAN HAYATI !

Ukhti fillah rahimakumulloh….marilah kita fahami tabiat dien ini. sungguh, dien ini adalah dien yan suci, yang tidak akan tegak kecuali dengan cara yang suci dan orang-orang yang suci pula. harapan ana, semoga kita bisa mengislah masing-masing diri kita, tetap menjaga kelurusan niat, kesucian hati dan jiwa kita, serta tetap tsabat di atas jalan-Nya. be istiqomah, ukh !

Masih ingat perkataan ibnu taimiyah kan ? “Tiada kebahagiaan dan kelezatan sempurna bagi hati selain kecintaan kepada Allah dan upaya mendekatkan diri kepada-Nya dengan hal-hal yang dicintai-Nya. sementara cinta tidak akan ada kecuali dengan berpaling dari semua kecintaan kepada selain-Nya. ” indah bukan ?! semoga Allah selalu mencurahkan manisnya iman kepada-Nya dan hangat cinta-Nya, kepada kita semua.

Satu hal yang tidak boleh anti lewatkan adalah ‘muraqabatullah’, pengawasan Allah, ukh. Innallaha ala bi kulli sya’in ‘alim. Malu lah kepada-Nya. Malu lah kepada Dzat yang Maha Mengetahui segala apa yang tersembunyi dalam hati.

ukh…,jangan lupa untuk selalu melakukan self control. pengendalian intern terhadap diri anti itulah yang akan menjadi basis kekuatan untuk memukul mundur ‘virus-virus busuk’ dalam perjalanan  iman anti. manage baik-baik self control anti, yaa….

pesan ana, kuatkan diri anti di jalan dakwah. perjalanan kita masih panjang. masih banyak lagi tribulasi dakwah yang akan kita temui. hadapi, atasi, dan jangan lari !, anggap saja accident yang menimpa hati dan iman anti tersebut sebagai bentuk mihnah, ujian dari Allah. bertahanlah, ukh ! tetaplah tegar di atas jalan-Nya. meskipun berat dan menyakitkan,….tetaplah bertahan ! bersabarlah untuk tidak bermaksiat kepada-Nya ! Ishbiru wa shabiru…,


Terakhir, Allahu ma’ana ukh…,always-lah berdoa, berikhtiar dan tawakal. insya’Allah doa ana juga menyertai anti.

Jumat, 16 Desember 2011

I Am Human, Not Animal !!

KEADABAN suatu Negara bukan dilihat dari seberapa banyak negara itu punya budaya, bukan pula dilihat dari seberapa hebat negara tersebut menguasai teknologi.. Tapi KEADABAN suatu Negara dilihat dari bagaimana orang-orang di negara tersebut mampu MEMANUSIAKAN manusia..Yaa sekali lagi saya sampaikan, negara yang BERADAB adalah negara dimana penduduknya memiliki PriKemanusiaan..

Entah apa yg terjadi di negriku saat ini,,
Terlalu banyak kasus kemanusiaan yg bertebaran seperti sampah yang tidak berharga..!
sesuatu yang tidak salah bukan jika saya mengatakan,

"hei bungg.. Iam HUMAN, not ANIMAL..!!"

kasus-kasus kemanusiaan yang kita temui lewat berbagai media akhir-akhir ini mengingatkan kita pada pola Orde baru yang kita "kutuki".. apakah pola ini sengaja dihidupkan kembali? ataukah memang mereka yg sudah tidak memiliki hati nurani..??

segerombolan laki-laki berseragam "pahlawan keamanan" dimata saya hanyalah sekumpulan laki2 pecundang..! mereka yang mengatasnamakan seragam dan titel mereka untuk berbuat anarkis dalam rangka "menertibkan" tidak selayaknya disebut aparatur negara..
mereka yang "melacurkan" seragam mereka hanya demi lembaran-lembaran nominal dan kedudukan semu semata.. tidak layak menjadi pelindung bagi rakyat..

sesuatu yang aneh bagi negriku..
Mahasiswa yang mengorbankan masa depan dan dunianya demi keadilan dan berjuang mengingatkan pemimpin yang dzolim justru disebut orang "bodoh".. mereka bilang, Kami mahasiswa yang ANARKIS dan MEMBAHAYAKAN..
Taukah Kalian, yang lebih membahayakan adalah JIWA yang MATI dalam JASAD yang HIDUP!!

kalau bukan karna perjuangan mahasiswa maka tidak akan pernah ada kata ada REFORMASI dan DEMOKRASI..
kalau bukan karna mahasiswa maka tidak akan pernah bapak SBY menjadi Presiden saat ini..

mahasiswa itulah yg harusnya disebut Pahlawan Keamanan..
karna ia paham betul bagaimana melindungi negara ini dari kehancuran rasa kemanusiaan..

Kemenangan Tidak akan ada Tanpa Perjuangan..!!
dan Perjuangan MUSTAHIL tanpa Pengorbanan..!!

kini, belum lagi masalah Hak Asasi Kemanusiaan yang sebelumnya terselesaikan secara adil,,
muncul masalah baru.. dan lagi-lagi dilakukan oleh mereka, "pahlawan keamanan"!!
30 nyawa melayang begitu saja.. seakan-akan 30 jasad itu seperti barang murah yang tidak berharga.!!.

menyedihkan, di zaman yang maju seperti ini justru lahir HITLER-HITLER muda..

Wahai penegak hukum,,
kasus mesuji sudah merupakan pelanggaran HAM berat..
Apakah akan dibiarkan begitu saja??
harus berapa banyak lagi SONDANG2 muda yg mengorbankan dirinya agar kalian membuka MATA dan HATI Kalian??

Sudah terlalu lama dan terlalu banyak rakyat kecewa dengan kredibilitas Lembaga Hukum dan Aparatur keamanan di negara ini..
Lembaga hukum sudah seharusnya menjadi lembaga yang memberikan keadilan dan ketegasan bagi siapa saja yg melanggar aturan yang telah di buat di negara ini.. bukan justru melindungi mereka yang memiliki uang dan jabatan..

bukankah tidak akan berdiri suatu negara yang aman dan sejahtera jika tidak ada lembaga hukum yang berlaku konsisten dan adil?
namun sepertinya Lembaga hukum di negara kami telah Mati Suri dalam jangka waktu yang lama.. apakah hanya doa yang mampu kami panjatkan pada Tuhan semesta alam atas kondisi negara ini??
Tidak!!
yaa, kami tidak ingin memiliki kondisi selemah-lemahnya iman.. selama pemuda masih menjadi milik kami, langkah dan teriakan keadilan ini takkan pernah berhenti..

aparatur negara yang harusnya mampu berlaku dingin dalam menyelesaikan segala persoalan baik itu ketertiban maupun keamanan tidak selayaknya menggunakan kekerasan sebagai jalan terakhir..
rakyat ataupun mahasiswa bukanlah barang yang bisa ditendang dan di pukul sesuka kalian.. atau bahkan diseret seperti binatang yang menjijikan..
bahkan binatang pun tidak layak diperlakukan demikian, tentunya bagi mereka yang memiliki hati..

kalian mampu berlaku keras dan kasar pada mereka yg memperjuangkan nasib generasi kalian.. namun mampu tersenyum menunduk pada mereka para penghancur generasi kalian..

kalian yang seharusnya mampu berada di tengah-tengah sebagai pemberi solusi atas keadilan justru berkonspirasi pada mereka yg lebih banyak memberikan lembaran-lembaran uang..
menyedihkan.. sungguh menyedihkan bangsaku ini..

lantas presidenku??
hanya sanggup mengatakan, SAYA TURUT PRIHATIN ATAS APA YG TERJADI..

Rabbi,
sungguh kami rindu sosok Abubakar As shidik..
kami rindu sosok Umar ibnu khattab..
kami rindu sosok Utsman bin afwan..
kami rindu pada pemimpin-pemimpin adil di zaman sebelum kami..

pemimpin yang mampu mengenyampingkan kesenangan dunia..
pemimpin yang mampu merendah atas kedudukan yang dimilikinya..
pemimpin yang mampu mengorbankan punggungnya di tengah keheningan malam hanya demi satu hal,, jangan sampai ada 1 pun rakyat nya yg mati kelaparan..

dimanakah kami bisa menemukan sosok ini rabbi??
semoga kami bisa menemukanya dalam diri kami..
menjadi orang-orang yang jujur dan adil..
menjadi generasi-generasi yang berani..
menjadi calon-calon pemimpin yang menjadikanMU sebagai alasan perjuangan Kami..
dan menjadikan Akhiratmu sebagai tempat Tertinggi bagi kesenangan, kebahagiaan, dan tempat kami kembali..

Amiin..............................


Rabu, 14 Desember 2011

Harapan Itu Selalu Ada Untukmu

Buka mata di lembaran hari..

Apa yg ingin kau dapatkan saat kau tau hari selanjutnya ternyata masih menjadi milikmu?

kita ingin mendapatkan kebahagiaan, keceriaan dan semangat baru bukan?


Wahai jiwa yang merasa putus asa, bukankah semangat itu selalu ALlah berikan untuk kita?

Pandanglah langit dan lihatlah betapa matahari tak pernah lelah menantang bumi dg sinaranya..

Tutup matamu di depan pancaranya dan rasakan dalam2 bagaimana sinaran itu mampu menyemangatimu..

Meski dalam diam..


Wahai seonggok daging yg allah ciptakan dengan ruh cinta,,

Saksikanlah bahwa keajaiban itu bukanlah sesuatu yg menjadi milikNYA semata..

Karna..

Sesungguhnya keajaiban itu mampu kau ciptakan..

Tapi bukan memaksakan..


Melangkahlah..

Melangkahlah..

Dan terus melangkahlah..

Karna harapan itu tidak pernah lenyap..


Yaa..

Selama IA tetap berada di ARsy, Harapan itu akan selalu ada untukmu..



Bekerjalah kamu!! Dan biarlah Allah, RasulNYa serta orang-orang beriman yg menilai pekerjaanmu..

Selasa, 13 Desember 2011

ISLAM untuk INDONESIA yang LEBIH BAIK..!!

Takdir bukanlah sesuatu yang kita ciptakan, akan tetapi ia sesuatu yang kita ‘ikut’ ciptakan. Antara
kehendak kita yang kits harapkan bertemu dengan kehendak Allah.

Kita adalah anak2 muda. Anak-anak muda ada untuk menciptakan keajaiban.. karna itu, Umar ibn Khotthob pernah mengatakan: “setiap saya menghadapi masalah yang rumit, saya panggil anak muda”

Pendiri republik ini adalah anak muda, hanya saja pemuda yang memulai dan melaksanakan reformasi tidak memimpin reformasi. Ini yang salah. Ini menimbulkan ketidakpastian, maka inilah tanggungjawab kita untuk mengakhiri ketidakpastian. Mereka yang mengisi era pasca orba adalah orang yang menghabiskan 30 tahun hidupnya di orde baru, ini dalam bahasa manajemen disebut dismatch/diskontinu .

“hanya keajaiban yang buat kita bisa dapat 20%”, n hati kita haruslah berkata: “maka keajaiban itu harus kita wujudkan suatu saat nanti nanti. Bahkan, kalau 20% itu keajaiban, maka kita ingin melampaui keajaiban itu. 20% adalah angka yang harus kita lampaui ikhwah fillahi.”


Ketika Hasan al Banna memulai dakwahnya di Mesir, saat itu mesir masih dijajah Inggris. Imam syahid mengawali dengan 7 sasaran dakwah, dan poin ke-7 adalah Ustadziyatul ‘alam. Sebuah cita-cita besar. Bangsa yang sedang dijajah ingin menjadi guru bagi peradaban manusia. Ini menghasilkan utopia, yang mana orang2 bersahaja saat itu percaya bahwa hal ini bisa diwujudkan, meskipun tidak pada masa mereka.

maka kenalkah kita dg organisasi besar Ikhwanul Muslimin?

Hampir seratus tahun kemudian, 80 tahun sekarang, IM menjadi jama’ah yang legendaris karena cita-citanya jauh mendahului langkah kakinya. Karena orang itu dipimpin bukan oleh seorang al Banna, tetapi oleh ide-ide besar.

Ini adalah cerita kita sekarang, cerita bagaimana kita mulai sejarah kemenangan dan menutupnya, cerita
tentang bagaimana para pemuda islam (kader dakwah) menyiasati semua keterbatasannya.



Soekarno mampu memimpin bangsa ini 20 tahun. Kenapa? Karena legendaris, berfikir tidak seperti orang lain
berfikir, Soekarno memikirkan revolusi.


Soeharto 32 tahun? Kenapa? Karena ide besar itu bernama pembangunan. Kenapa para Presiden republik ini yang menjabat setelah reformasi hanya bertahan 12-16 bulan? Karena mereka berfikiran pendek dan tak ada “narasi besar” dalam fikiran mereka.Penafsiran tunggal bahwa reformasi adalah antitesis dari orde baru adalah kesalahan. Orde lama dan baru memiliki kekurangan, sebagaimana mereka juga memiliki kebaikan.


pemuda islam seharusnya bisa  mensintesa kebaikan-kebaikan periode sebelum reformasi. Kita mensintesa demokrasi dan kesejahteraan. Demokrasi orde lama yang mengeliminsai kesejahteraan, dan kesejahteraan orde baru yang mengeliminasi demokrasi.

Muhammad Iqbal dalam sebuah puisinya berkata:


Tuhan,
Ajarilah kami kembali ajaran tentang cinta.
Biar kami bisa kumpulkan lidi-lidi yang berserakan ini
menjadi satu


Kita para pemuda islam yg menamakan diri sebgai aktivis dakwah n kita adalah simbol perekat yang akan memimpin Reformasi.

Lidi kita adalah lidi yang bersih, tapi belum mampu bersihkan kotoran. Kita harus bersatu dengan lidi lain yang meskipun masih kotor tapi kita membentuk sapu lidi bersama.

Itulah yang dituntut dari Pemuda islam yg sebenarnya, tidak hanya bersih, tetapi juga membersihkan. Kenapa reformasi jalan di tempat? Karena semua orang yang punya potensi tidak tahu dimana tempatnya.



KPK anggarannya 78 M setahun, tapi uang yang dikembalikan ke pemerintah dari korupsi setahun 24 M. Kasus BI adalah uang 100 M, tetapi anggaran untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan menstabilkan pasar akibat skandal itu yang harus dikeluarkan BI adalah 5,5 M $. Padahal 100 M itu hanya 10 juta $ paling banyak.
Ini cara membunuh nyamuk dengan meriam.


Kita selalu menjadi yang pertama di tempat bencana, tapi sendirian disana tidaklah cukup, kita harus
menjadi unsur perekat yang membuat seluruh warga indonesia peduli, itu baru cukup.


Berkumpul tanpa dipimpin itu seperti kita hadir dalam sebuah dauroh, tempat sudah penuh, tapi tidak ada yang
membuka dan memimpin acara, tak ada yang dikerjakan bersama, semua hanya datang dan berbicara diantara
mereka tentang kebaikan dan kerja bersama. Perkumpulan tersebut adalah sia-sia.


Maka matchmaker ini harus dibarengi dengan satu
kemampuan lain: Inovator.


Inovator adalah berfikir lebih cepat. Fikiran kita mendahului langkah kita dan langkah orang lain, bahkan
langkah semua orang di republik ini.


Mengapa Zhilal itu legendaris? Karena ia mengembalikan makna wahyu, bahwa al-Qur’an diturunkan ayat demi ayat
untuk menjawab setiap dimensi kemanusiaan yang terjadi dikalangan sahabat. Bahwa wahyu selalu mendahului
langkah kaki para sahabat.


Dua tahun sebelum fathu makkah, Allah sudah menurunkan ayat: “inna fatahna..” –jika sampai masanya kalian akan masuk baitullah dengan aman.

DR. Said Ramadhon al
Buthi dalam Fiqhu Shirah menjelaskan bahwa pada saat ayat tersebut diturunkan, mayoritas sahabat tidak tahu
apa arti dari ayat tersebut. Sampai mereka mengalaminya 2 tahun kemudian dan tersadar bahwa
Al-Qur’an telah mendahului mereka.


Perang Uhud sudah diramalkan 1 tahun sebelumnya pada surah Al-Anfaal, Allah sudah memperingatkan kaum
muslimin agar tidak tergoda. Kenyataannya setelah perang itu benar-benar terjadi dan menyebabkan Hamzah
bin Abdul Mutholib–paman nabi, Mush’ab bin Umair–sahabat yang sangat dicintai Nabi, dan 70 sahabat syahid. Allah tidak kemudian menghinakan, tetapi turun ayat “laa khoufu, walaa tahzanu…”


Hanya butuh keyakinan & senyuman,kemudian rasakan aura
kemenangan dan sebarkan itu kepada para kader dakwah.



Itulah yang dirasakan para sahabat yang berperang bersama Kholid bin Walid, mereka tidak pernah bertanya
strategi, taktik, tahapan seperti apa.


Berperang bersama akh kholid saja itu sudah cukup..!
Begitulah semangat dengan keyakinan.



Khalid bin Walid ketika membebaskan Palestina diajak berunding oleh para pendeta, pendeta itu tahu bahwa mengalahkan Khalid dalam peperangan adalah mustahil, maka mereka berniat meracun Khalid bin Walid. Khalid tahu persis itu yang para pendeta itu lakukan, akan tetapi Khalid tetap meminum air beracun itu untuk mengatakan pada musuh Allah itu: “Dengan izin Allah, racun ini tidak akan membunuhku”, sambil membaca do’a yang setiap hari kita baca dalam ma’tsurat:

“Bismillaahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fis samaa’ wahuwas samii’ul ‘aliim”


Di Afrika, semua rusa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih kencang dari singa, maka mereka akan mati dimakan. Di Afrika, semua singa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepatdari rusa, maka mereka akan mati kelaparan.

Wa antum a’lamu inkuntum mukminiin, kemudian pertanyaan itu sekarang berubah:

“Apakah kita sebagai pemuda islam (aktivis dakwah) siap memimpin Agama dan Negara ini suatu hari nanti?”…

kita menjawab: “20% adalah sejarah yang akan kita buat hari ini”

maka slalu bergeraklah dalam kebaikan dan perbaikan..!!

..HAMASAH..