Selasa, 28 Februari 2012

Yang Aku Tahu; Allah Bersamaku




aku percaya
maka aku akan melihat keajaiban
iman adalah mata yang terbuka
mendahului datangnya cahaya


“Aku”.
Jawaban Musa itu terkesan tak tawadhu’. Ketika seorang di antara Bani Israil bertanya siapakah yang paling ‘alim di muka bumi, Musa menjawab, “Aku”. Tapi oleh sebab jawaban inilah di Surat Al Kahfi membentang 23 ayat, mengisahkan pelajaran yang harus dijalani Musa kemudian. Uniknya di dalam senarai ayat-ayat itu terselip satu lagi kalimat Musa yang tak tawadhu’. “Kau akan mendapatiku, insyaallah, sebagai seorang yang sabar.” Ini ada di ayat yang keenampuluh sembilan.
Di mana letak angkuhnya? Bandingkan struktur bahasa Musa, begitu para musfassir mencatat, dengan kalimat Isma’il putra Nabi Ibrahim. Saat mengungkapkan pendapatnya pada sang ayah jikakah dia akan disembelih, Isma’il berkata, “Engkau akan mendapatiku, insyaallah, termasuk orang-orang yang sabar.”

Tampak bahwa Isma’il memandang dirinya sebagai bagian kecil dari orang-orang yang dikarunia kesabaran. Tapi Musa, menjanjikan kesabaran atas nama pribadinya. Dan sayangnya lagi, dalam kisahnya di Surat Al Kahfi, ia tak sesabar itu. Musa kesulitan untuk bersabar seperti yang ia janjikan. Sekira duapuluh abad kemudian, dalam rekaman Al Bukhari dan Muslim, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang kisah perjalanan itu, “Andai Musa lebih bersabar, mungkin kita akan mendapat lebih banyak pelajaran.”

​Wallaahu A’lam. Mungkin memang seharusnya begitulah karakter Musa, ‘Alaihis Salaam. Kurang tawadhu’ dan tak begitu penyabar. Sebab, yang dihadapinya adalah orang yang paling angkuh dan menindas di muka bumi. Bahkan mungkin sepanjang sejarah. Namanya Fir’aun. Sangat tidak sesuai menghadapi orang seperti Fir’aun dengan kerendahan hati dan kesabaran selautan. Maka Musa adalah Musa. Seorang yang Allah pilih untuk menjadi utusannya bagi Fir’aun yang sombong berlimpah justa. Dan sekaligus, memimpin Bani Israil yang keras kepala.

​Hari itu, setelah ucapannya yang jumawa, Musa menerima perintah untuk berjalan mencari titik pertemuan dua lautan. Musa berangkat dikawani Yusya ibn Nun yang kelak menggantikannya memimpin trah Ya’qub. Suatu waktu, Yusya melihat lauk ikan yang mereka kemas dalam bekal meloncat mencari jalan kembali ke lautan. Awalnya, Yusya lupa memberitahu Musa. Mereka baru kembali ke tempat itu setelah Musa menanyakan bekal akibat deraan letih dan lapar yang menggeliang dalam usus.

​Di sanalah mereka bertemu dengan seseorang yang Allah sebut sebagai, “Hamba di antara hamba-hamba Kami yang kamu anugerahi rahmat dari arsa Kami, dan Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami.” Padanyalah Musa berguru. Memohon diajar sebagian dari apa yang telah Allah fahamkan kepada Sang Guru. Nama Sang Guru tak pernah tersebut dalam Al Quran. Dari hadits dan tafsir lah kita berkenalan dengan Khidzir.

​Kita telah akrab dengan kisah ini. Ada kontrak belajar di antara keduanya. “Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar. Dan aku takkan mendurhakaimu dalam perkara apapun!”, janji Musa. “Jangan kau bertanya sebelum dijelaskan kepadamu”, pesan Khidzir. Dan dalam perjalanan menyejarah itu, Musa tak mampu menahan derasnya tanya dan keberatan atas tiga perilaku Khidzir. Perusakan perahu, pembunuhan seorang pemuda, dan penolakan atas permohonan jamuan yang berakhir dengan kerja berat menegakkan dinding yang nyaris rubuh.
Tanpa minta imbalan.

​Alhamdulillah, kita belajar banyak dari kisah-kisah itu. Kita belajar bahwa dalam hidup ini, pilihan-pilihan tak selalu mudah. Sementara kita harus tetap memilih. Seperti para nelayan pemilik kapal. Kapal yang bagus akan direbut raja zhalim. Tapi sedikit cacat justru menyelamatkannya. Sesuatu yang ‘sempurna’ terkadang mengundang bahaya. Justru saat tak utuh, suatu milik tetap bisa kita rengkuh. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Maa laa tudraku kulluhu, fa laa tutraku kulluh.. Apa yang tak bisa didapatkan sepenuhnya, jangan ditinggalkan semuanya.”

Kita juga belajar bahwa ‘membunuh’ bibit kerusakan ketika dia baru berkecambah adalah pilihan bijaksana. Dalam beberapa hal seringkali ada manfaat diraih sekaligus kerusakan yang meniscaya. Padanya, sebuah tindakan didahulukan untuk mencegah bahaya. Ada tertulis dalam kaidah fiqh, “Dar’ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih.. Mencegah kerusakan didahulukan atas meraih kemashlahatan.”

Dan dari Khidzir kita belajar untuk ikhlas. Untuk tak selalu menghubungkan kebaikan yang kita lakukan, dengan hajat-hajat diri yang sifatnya sesaat. Untuk selalu mengingat urusan kita dengan Allah, dan biarkanlah tiap diri bertanggungjawab padaNya. Selalu kita ingat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sultan yang dimakan fitnah memenjarakan dan menyiksanya. Tapi ketika bayang-bayang kehancuran menderak dari Timur, justru Ibnu Taimiyah yang dipanggil Sultan untuk maju memimpin ke garis depan. Berdarah-darah ia hadapi air bah serbuan Tartar yang bagai awan gelap mendahului fajar hendak menyapu Damaskus.

Ketika musuh terhalau, penjara kota dan siksa menantinya kembali. Saat ditanya mengapa rela, ia berkata, “Adapun urusanku adalah berjihad untuk kehormatan agama Allah serta kaum muslimin. Dan kezhaliman Sultan adalah urusannya dengan Allah.”


Iman dan Keajaiban yang Mengejutkan

​Subhanallah, alangkah lebih banyak lagi ‘ibrah yang bisa digali dari kisah Musa dan Khidzir. Berlapis-lapis. Ratusan. Lebih. Tapi mari sejenak berhenti di sini. Mari picingkan mata hati ke arah kisah. Mari seksamai cerita ini dari langkah tertatih kita di jalan cinta para pejuang. Mari bertanya pada jiwa, di jalan cinta para pejuang siapakah yang lebih dekat ke hati untuk diteladani?
Musa. Bukan gurunya.

Ya. Karena di akhir kisah Sang Guru mengaku, “Wa maa fa’altuhuu min amrii.. Apa yang aku lakukan bukanlah perkaraku, bukanlah keinginanku.” Khidzir ‘hanyalah’ guru yang dihadirkan Allah untuk Musa di penggal kecil kehidupannya. Kepada Khidzir, Allah berikan semua pemahaman secara utuh dan lengkap tentang jalinan pelajaran yang harus ia uraikan pada Rasul agung pilihanNya, Musa ‘Alaihis Salaam. Begitu lengkapnya petunjuk operasional dalam tiap tindakan Khidzir itu menjadikannya sekedar sebagai ‘operator lapangan’ yang mirip malaikat. Segala yang ia lakukan bukanlah perkaranya. Bukan keinginannya.

Beberapa orang yang menyebut diri Sufi mengklaim, inilah Khidzir yang lebih utama daripada Musa. Khidzir menguasai ilmu hakikat sedang Musa baru sampai di taraf syari’at. Maka seorang yang telah disingkapkan baginya hakikat, seperti Khidzir, terbebas dari aturan-aturan syari’at. Apa yang terlintas di hati menjadi sumber hukum yang dengannya mereka menghalalkan dan mengharamkan. Ia boleh merusak milik orang. Ia boleh membunuh. Ia melakukan hal-hal yang dalam tafsir orang awwam menyimpang, dan dalam pandangan syari’at merupakan sebuah pelanggaran berat.

Imam Al Qurthubi sebagaimana dikutip Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Fathul Barii, membantah tofsar-tafsir ini. Pertama, tidak ada tindakan Khidzir yang menyalahi syari’at. Telah kita baca awal-awal bahwa semua tindakannya pun kelak bersesuaian dengan kaidah fiqh. Bahkan dalam soal membunuh pun, Khidzir tidak melanggar syari’at karena ia diberi ilmu oleh Allah untuk mencegah kemunkaran dengan tangannya. Alangkah jauh tugas mulia Khidzir dengan apa yang dilakukan para Sufi nyleneh semisal meminum khamr, lalu pengikutnya berkata, “Begitu masuk mulut, khamr-nya berubah menjadi air!”
Tidak sama!

Kedua, setinggi-tinggi derajat Khidzir menurut jumhur ‘ulama adalah Nabi di antara Nabi-nabi Bani Israil. Sementara Musa adalah Naqib-nya para Naqib, Nabi terbesar yang ditunjuk memimpin Bani Israil, seorang Rasul yang berbicara langsung dengan Allah, mengemban risalah Taurat, dan bahkan masuk dalam jajaran istimewa Rasul Ulul ‘Azmi bersama Nuh, Ibrahim, ‘Isa, dan Muhammad.
Maka Musa jauh lebih utama daripada Khidzir.

“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah melebihkan engkau dari antara manusia, untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara secara langsung denganKu.” (Al A’raaf 144)

Ketiga, Allah memerintahkan kita meneladani para Rasul yang kisah mereka dalam Al Quran ditujukan untuk menguatkan jiwa kita dalam meniti jalan cinta para pejuang. Para Rasul itu, utamanya Rasul-rasul Ulul ‘Azmi menjadi mungkin kita teladani karena mereka memiliki sifat-sifat manusiawi. Mereka tak seperti malaikat. Juga bukan manusia setengah dewa. Mereka bertindak melakukan tugas-tugas yang luar biasa beratnya dalam keterbatasannya sebagai seorang manusia.

Justru keagungan para Rasul itu terletak pada kemampuan mereka menyikapi perintah yang belum tersingkap hikmahnya dengan iman. Dengan iman. Dengan iman. Berbeda dengan Khidzir yang diberitahu skenario dari awal hingga akhir atas apa yang harus dia lakukan –ketika mengajar Musa-, para Rasul seringkali tak tahu apa yang akan mereka hadapi atau terima sesudah perintah dijalani. Mereka tak pernah tahu apa yang menanti di hadapan.

Yang mereka tahu hanyalah, bahwa Allah bersama mereka.
Nuh yang bersipayah membuat kapal di puncak bukit tentu saja harus menahan geram ketika dia ditertawai, diganggu, dan dirusuh oleh kaumnya. Tetapi, sesudah hampir 500 tahun mengemban risalah dengan pengikut yang nyaris tak bertambah, Nuh berkata dengan bijak, dengan cinta, “Kelak kami akan menertawai kalian sebagaimana kalian kini menertawai kami.”

Ya. Nuh belum tahu bahwa kemudian banjir akan tumpah. Tercurah dari celah langit, terpancar dari rekah bumi. Air meluap dari tungkunya orang membuat roti dan mengepung setinggi gunung. Nuh belum tahu. Yang ia tahu adalah ia diperintahkan membina kapalnya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Ibrahim yang bermimpi, dia juga tak pernah tahu apa yang akan terjadi saat ia benar-benar menyembelih putera tercinta. Anak itu, yang lama dirindukannya, yang dia nanti dengan harap dan mata gerimis di tiap doa, tiba-tiba dititahkan untuk dipisahkan dari dirinya. Dulu ketika lahir dia dipisah dengan ditinggal di lembah Bakkah yang tak bertanaman, tak berhewan, tak bertuan. Kini Isma’il harus dibunuh. Bukan oleh orang lain. Tapi oleh tangannya sendiri.

Dibaringkanlah sang putera yang pasrah dalam taqwa. Dan ayah mana yang sanggup membuka mata ketika harus mengayau leher sang putera dengan pisau? Ayah mana yang sanggup mengalirkan darah di bawah kepala yang biasa dibelainya sambil tetap menatap wajah? Tidak. Ibrahim terpejam. Dan ia melakukannya! Ia melakukannya meski belum tahu bahwa seekor domba besar akan menggantikan sang korban. Yang diketahuinya saat itu bahwa dia diperintah Tuhannya. Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya. ‘Alaihis Salaam..

Musa juga menemui jalan buntu, terantuk Laut Merah dalam kejaran Fir’aun. Bani Israil yang dipimpinnya sudah riuh tercekam panik. “Kita pasti tersusul! Kita pasti tersusul!”, kata mereka. “Tidak!”, seru Musa. “Sekali-kali tidak akan tersusul! Sesungguhnya Rabbku bersamaku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Petunjuk itupun datang. Musa diperintahkan memukulkan tongkatnya ke laut. Nalar tanpa iman berkata, “Apa gunanya? Lebih baik dipukulkan ke kepala Fir’aun!” Ya, bahkan Musa pun belum tahu bahwa lautan akan terbelah kemudian. Yang dia tahu Allah bersamanya. Dan itu cukup baginya. ‘Alaihis Salaam..

Merekalah para guru sejati. Yang kisahnya membuat punggung kita tegak, dada kita lapang, dan hati berseri-seri. Yang keteguhannya memancar menerangi. Yang keagungannya lahir dari iman yang kukuh, bergerun mengatasi gejolak hati dan nafsu diri. Di jalan cinta para pejuang, iman melahirkan keajaiban. Lalu keajaiban menguatkan iman. Semua itu terasa lebih indah karena terjadi dalam kejutan-kejutan. Yang kita tahu hanyalah, “Allah bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya tumpah
ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba
ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
Musa belum tahu bahwa lautan kan terbelah
saat ia diperintah memukulkan tongkat
di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak
“Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!”
dan kitapun belajar, alangkah agungnya iman

Yuk,, Kita Hidup Sehat Ala Rasulullah

Assalamu'alaikum.. mau berbagi ilmu niihh,,,

Guys..kata Rasulullah "mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah" (HR. Muslim). ya karna dengan sehatlah kita bisa melakukan amal2 kebaikkan dengan sempurna. Tau gak sih guys, Rasulullah g pernah lho sakit perut sepanjang hayatnya karna Beliau selalu menjaga kesehatanya. nah apa ya rahasianya?? ini dia cara beliau menjaga kebugaran tubuhnya,

1.  Bangun dan Mandi sebelum subuh, 
    Sujud sangatlah baik bagi kesehatan. Rasulullah selalu bangun sebelum subuh, Mandi, Shalat sunah  kemudian baru deh melaksanakan Sholat Fardhu subuh berjamaah di masjid. mandi sekurang-kurangnya sejam sebelum matahari terbit sangat baik bagi kesehatan. air sejuk yang meresap kebadan dapat mengurangi Penimbunan Lemak. waktu sholat subuh disunatkan bertafakur (yaitu sujud sekurang-kurangnya 1 menit setelah membaca do'a) hal ini dapat mencegah sakit kepala atau Migrain. Ahli sains menemukan beberapa milimeter ruang udara dalam saluran dikepala yang tidak dipenuhi oleh darah, nah dengan versujud maka darah akan memenuhi ruangan itu. selain itu kesegaran udara di subuh hari bagus bagi terapi beberapa penyakit seperti  penyakit TBC.. Hebatnya Rasulullah adalah beliau sudah mengetahui penyakit, pencegahan dan pengobatan sebelum para ahli medis mengetahuinya.. hebat ya guyyss.. :)

2. Menjaga Kebersihan
    Rasul senantiasa Rapih dan bersih. tiap kamis atau jumat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, memotong kuku bersisir dan berminyak wangi. mandi pada setiap hari jumat wajib nih buat para laki-laki beriman demikian pula menggosok gigi (bersiwak) dan memakai harum-haruman (HR. muslim). bahkan ya guys sangking bersihnya rasulullah keringat beliau pernah dipakai oleh bibi aisyah untuk sumber biang minyak wangi lho,, (beliau menadahi tetesan keringat rasulullah yg sedang tertidur dibale2/dipan dengan menggunakan wadah dr bawahnya).. dan ternyata menurut ahli medis setiap keringat kita tdk bau lhoo,, yg menyebabkan bau adalah bakteri di tubuh bagian luar kita.. makanya sering2 mandi yaaa.. biar keringatnya semerbak wanginya seperti rasulullah.. ^^

3. Menjaga Pola Makan
    Sabda Rasusulullah "kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak" (muttafaq alaih). dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda, seperti sepertiga untuk air, sepertiga untuk udara dan sepertiga lainya untuk makanan. naahh puasa sunah nih guys bagus untuk menyeimbangkan kesehatan kita. soal pola makan, Nabi pernah melarang para sahabat makan dengan ikan bersamaan dengan daging ayam karna cepat memicu timbulnya penyakit. dan ternyataa yaa para ilmuwan menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion + dan dalam daging ikan mengandung ion - yang apabila dimakan secara bersamaan akan menimbulkan reaksi biokimia yang dapat merusak usus kita.. subhanallah, dan untuk kesekian kalinya rasulullah sudah mengetahuinya lebih dulu dari ilmuwan.. 
    selain itu ya guyys kenapa kita disunahkan makan tidak dengan sendok atau peralatan makan lainya melainkan dengan jari2 kita, hal itu dikarenakan rasulullah mencontohkan dan menyarankan  kepada para sahabat n kita sebagai umatnya untuk makan menggunakan 3 jari dan beliau setelah makan selalu menjilati jari2 nya.. dan ternyata, ahli saintis menemukan bahwa ternyata di sela2 jari kita mengandung banyak enzim yg baik untuk proses pencernaan dan tubuh kita... waahhh Rasulullah kereenn yaa.. =)

4. Gemar Berjalan Kaki
    tau g sih guyss,, Rasulullah tidak pernah menggunakan kendaraan seperti unta kecuali untuk perjalanan beratus2 kilometer. Rasulullah selalu berjalan kaki ke masjid, ke pasar, medan jihad, mengunjungi rumah para sahabat DLL. karna dengan berjalan kaki keringat akan mengalir, pori-pori akan terbuka, peredan darah lancar. dan hal ini ternyata bagus untuk mencegah penyakit jantung.. naahh buat kita yg sering aksi ternyata bagus lho longmarch bisa bikin jantung kita sehat.. dan buat para laki-laki kalo mau sholat jumat g usah pake motor lagi deh biar tambah sehat..

5. Tidak Pemarah
    Siapa bilang hidup dengan jasadiah sehat g ada hubunganya dengan batiniah?..Nasihat rasulullah " jangan marah!!" diulangi sampai 3 kali. hal ini menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatan muslim bukanlah terletak pada jasadiah belaka tetapi lebih dari itu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa. nah tau g guyss ada terapi yg tepat untuk menahan amarah: merubah posisi, jika berdiri maka duduklah, jika duduk maka berbaringlah lalu membaca taawuz (audzubillahiminasy-syaitonirrojim) karna marah itu datangnya dr syaiton kemudian segeralah berwudhu lalu dilanjut dg sholat 2 rakaat.. insya allah hati jd tenang guys.. sudah sering dibuktikan lhoo.. ^^

6. Shalat Malam
    Solat tahajud dapat meningkatkan ketahanan tubuh, membantu daya ingat dan mencerdaskan otak, karna kemurnian oksigen diudara terdapat pada saat2 jam shalat tahajud guys yaitu sekitar jam 2 sampai subuh hari.. yuukk yg mau cerdas dan sehat kita rajin-rajin sholat tahajud.. ;)


nah itu sebagian dr cara hidup sehat ala rasulullah, semoga kita bisa memulai untuk menerapkan dalam hidup kita yaa,, biar sehat jasadiah, ruhiah, dan fikriah kita.. semoga bermanfaat yuaa..
wassalamualaikum..


sumber: diambil dari berbagai sumber ilmu, hadist, shiroh, dan lainya

Senin, 27 Februari 2012

Haruskah Tarbiah Tinggal Kenangan???

Tarbiyah, tinggal kenangan?
Masak?
Yang bener?

Oke, kita runut lagi sejarah. Putar pembalik waktumu 3 kali. Set waktu yang tepat, Jangan sampai terlihat. Dan anda siap kembali kemasa lalu. #eaa (jelas cerita baca harry potter part 3)
Nabi SAW bersabda akan tiba suatu masa dimana islam menjadi suatu yang asing. Termasuk busana jilbab. Sebagaimana awal kedatangan islam. Dalam keadaan seperti itu  kita tidak boleh larut. Harus tetap bersabar. dan memegang islam dengan teguh.walaupun berat seperti memegang bara api. Dan Insya Allah dalam kondisi yang rusak dan bejat seperti ini, mereka yang tetap kuat akan mendapat pahala yang berlipat ganda. Bahkan dengan pahala 50 kali lipat pahala para sahabat.

Sabda nabi:
“Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing, maka beruntunglah orang-orang terasing itu” (HR Muslim)

Saya ingat lagunya Izzatul Islam. Generasi harapan:
Dimana dicari pemuda kahfi
Terasing demi kebenaran hakiki
Dimana jiwa pasukan badar berani
Menoreh namamu yang perkasa abadi

Kawan, hidup ini memang keras. Perjuangan ini menuntut pengorbanan dari mu. Harta. Waktu bahkan nyawa.

Semua ada fase kalah dan jayanya. Ada fase kemunduran. Tapi fase kemunduran ini, atau apalah namanya, pergerakan berkurang dll, jangan jadikan fase untuk berdiam diri dan menonton kekalahan.
Saat-saat seperti ini adalah langkah baru untuk mencapai kejayaan. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Bukan sistem yang salah. Bukan kita yang salah. Bukan qiyadah yang salah. Bukan jundi yang salah. Percaya pada rukun iman ke-6 kan? Iman kepada takdir baik dan buruk. Yang menghantarkan kita kepada iman kepada Allah. Tapi ingat firman Allah. Jangan mendoktrin Allah tidak adil dulu. Takdir seorang hamba itu sebenarnya dia yang membuatnya. Susah senangnya. Jangan seperti air mengalir saja. Berjuang, berusaha dan berdo’a, Insya Allah ini jalan yang akan menghantarkan kita pada kehidupan hakiki.

Syukurlah ada yang menyatakan kalau “keadaan” tetap seperti ini tanpa pergerakan nyata. Tanpa Azzam yang kuat dari ikhwah semua. Maka tarbiyah akan menjadi sejarah dan kenangan saja di kampus dan kehidupan ini. Syukurlah ada yang menyadari akibatnya akan seperti itu. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi menganalisa apa yang akan terjadi kalau kondisi “kita” tetap seperti ini.

Sebenarnya (ehem) ketika kita membicarakan suatu masalah. Mengutuk-ngutuk masalah. Maka yakinlah secara tidak langsung kita dapat solusi dari sana. Contohnya saya yang sedang mengetik tulisan ini di laptop Acer Aspire 4720Z ini (penting?). masalah saya adalah bingung mau menulis tentang apa atau bagaimana membahas masalah yang akan saya tulis(?) oke saya mulai ngelantur. Jadi intinya seperti itu.bicarakan masalah maka anda akan dapat solusinya. Jangan dipendam dan dikonsumsi sendiri. Kalau tidak mau berakhir gantung diri dikamar mandi yang sepi tak berpenghuni dan tinggal dikuburi.

Oke. Sekarang saya anggap kita semua sadar kalau kita tetap berleha-leha maka tarbiyah hanya akan menjadi kenangan yang tak terlupakan yang pernah ada. Bayangkan. Dari sini saya mengenal jama’ah ini. Dari sini saya kenal sahabat-sahabat yang luar biasa. Dari sini saya bertemu dengan aktivis-aktivis mahasiswa. Para pemuda yang berpikir selangkah lebih maju dari orang dizamannya. Dari sini saya mengenal orang-orang berbekal dengan taqwa(Insya Allah). Dari sini saya dibimbing, dibentuk sehingga lebih berbentuk dari sebelumnya (bercanda ding).

Pernah terbayang ketika antum tidak berada dijama’ah ini lagi? Atau memutuskan mundur karena kecewa? Kecewa dengan teman-teman yang girohnya sudah mulai berkurang? Hilang arah? Go a head!!!

“Mujahid sejati tidak harus dulu di motivasi, baru kemudian ia  beraksi..
Tidak pula harus dulu diajak, baru kemudian ia bergerak…
Ia hadir menginspirasi, bukan menanti instruksi…
 Ia mampu memotivasi diri untuk bangkit dari keterpurukan tanpa harus dulu dinasehati…
Jangan cengeng karena ujian, karena surge hanya layak bagi orang-orang yang berani MENIKMATI ujian tanpa pamrih..”

Menjadi cahaya
Jika engkau merasa bahwa segala yang ada disekitarmu gelap dan pekat,
tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah
yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka?
Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu,
sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, maka
berkilaulah.

Karena masalah banyak manfaatnya:
Penebus dosa. Nikmat kehidupan. Masalah untuk mengangkat derajat. Banyak masalah banyak ilmu. Masalah sebagai seleksi. Masalah untuk merevisi langkah. [] The Way To Win

Ingat tetap jaga anda dalam kondisi tidak terlihat (pembalik waktu tadi maksud saya) kalau anda terlihat, anda melanggar hukum alam. Oke sekarang pastikan anda dan teman seperjalan anda kembali tepat waktu dan ditempat yang sama ketika anda memutar pembalik waktu anda. Siapkan sejuta argument untuk menginspirasi yang lain. Ingat. Jadi cahaya.

Wallahu’alam.
‘Afwan
Semangat ding.