:: Awalnya aku tak menyangka bahwa apa yang kutuliskan dibawah ini adalah sebuah kisah nyata, namun berulangkali kutampis keyakinan bahwa ini kisah nyata tetap saja kenyataan sudah menterjemahkanya menjadi sebuah kisah yang memilukan.. ya muqolibal qulub, qulub tsabit ala dinnika ::
Aku memandang
lekat tubuh yang tengah tergolek tidur di sampingku. Tegap dan tampan,
tak bercacat. Tubuh yang sangat kukenal, yang telah berada disisiku
selama 10 tahun terakhir hidupku. Tubuh seorang yang sangat kuscintai,
yang menjadi ayah dari anak-anakku.
Benakku menembus waktu,
mengingat masa ketika kuliah dulu. Siapa yang tak pernah mendengar nama
Yudhis. Mahasiswa kedokteran dari universitas negeri, ketua senat,
aktivis Rohis, kader Lembaga Dakwah Kampus, dan seabrek jabatan lainnya.
Siapa pula yang tak kenal dengannya di kampus. Yudhis sering muncul di
depan publik. Kepandaiannya berorasi mengagumkan. Menggugah semangat dan
memukau yang mendengarnya.
Aku merasa amat mengenal Yudhis.
Kami satu angkatan dan sering bekerja sama dalam banyak kegiatan dan
kepanitiaan. Beberapa kali Yudhis menjadi ketua dan aku sebagai
sekretaris. Sudah menjadi rahasia umum kalau Yudhis banyak penggemarnya.
Fans-nya berasal dari beragam kalangan. Dari cewek gaul sampai aktivis,
satu angakatn, hingga adik kelas, sefakultas maupun tidak. Yudhis punya
kharisma yang luar biasa. Tutur katanya lembut dan sopan, wajahnya
putih bersinar. Nilai plus yang lain adalah IP-nya tetap tingi walau
aktivitasnya bejibun.
Menjalani banyak kegiatan bersama dan
interaksi berfrekuensi tinggi diantara kami berdua, diam-diam menjadikan
aku sebagai salah satu yang berada diantara jajaran para penggemar
gelapnya. Simpati yang mulai berkembang dari benih itu kukubur ke
sedalam-dalamnya hatiku. Biar ia terpendam di sana dan tak ada yang
tahu.
Aku dan Yudhis, kami sama-sama tahu, tak ada kata pacaran
dalam kosa kata kami. Apalagi kami berada dalam satu wadah pembinaan.
Sekecil apa pun "rasa" yang sempat menyeruak, sesegera mungkin aku
enyahkan.
Kadangkala sulit bagiku untuk mengendalikan gejolak
hati. Berada pada masa usia yang telah cukup untuk mengenal kata
"cinta". Berada pada masa di mana di dunia yang sama masyarakat telah
mafhum dengan hubungan cinta di kalangan mahasiswa.
Tidak
pernah terlintas sedikitpun aku akan pacaran. Sejak kecil ayah telah
menanamkan pendidikan yang keras dan benar. Memproteksi anak-anak
perempuannya dari segala kemungkinan fitnah.
Tapi hati ini.
Uhh, tak mungkin aku membohongi diri sendiri bahwa aku menyukai Yudhis.
Yudhis perhatian padaku? Ah,masa iya? Kutepuk pipiku untuk menyadarkan
diri dari keterlenaan sesaat. Ya, Yudhis memang perhatian padaku, tapi
juga perhatian ke yang lainnya. Seorang pemimpin dituntut untuk
perhatian kepada anak buahnya. Tidak aneh kalau dia sering menghubungiku
untuk membicarakan berbagai masalah dalam kegiatan kami.
Aku
berada di balik lemari sekretariat, sibuk membereskan file-file Forum
Studi. Kala itu sekretariat sepi, hanya ada aku seorang. Tiba-tiba
terdengar percakapan dari balik lemari. Aku tak bisa melihat siapa
mereka. Mereka pun tak menyadari ada sepasang telinga yang berada di
balik lemari.
"Nur, kamu tahu nggak? Kak Yudhis perhatian
banget ke aku. Aku nggak terlihat di rapat sekali saja, dia langsung
menelepon aku!" seru suara pertama.
"Wah, kamu beruntung banget
Mel. Kak Yudhis kan cakep, pinter, kaya lagi. Lumayanlah, biar Kijang
tapi keluaran terbaru loh." Suara ke dua menimpali.
"Bagiku dia perfect banget. Kamu lihat sendiri kan tadi bagaimana dia memandangku. Terus senyumnya. Manis banget bo!"
"Memang kalau aku perhatiin, Kak Yudhis ada feeling sama kamu. Tapi
saingannya banyak Mel. Tau kan siapa aja yang naksir dia. Putri, Heni,
Sinta. Belum lagi kakak-kakak angkatan."
"Masa bodoh sama mereka. Yang penting Kak Yudhis suka sama aku." Terselip nada GR dari suaranya.
Bukannya aku bermaksud menguping, tapi dialog itu tersimak dengan
sendirinya. Dari suaranya aku bisa mengenali mereka. Adik tingkat, 3
angkatan di bawahku. Rasanya tak salah juga kalau ia merasa GR. Kadang
Yudhis memang terlalu tebar pesona. Berulang kali kudengar para ikhwan
menasehatinya tentang masalah ini. Akhirnya Yudhis menyadari bahwa
kharismanya telah menyebabkan banyak hati yang jatuh bergelimpangan. Dan
ia mulai membangun jarak.
Kini tubuh laki-laki yang
berstatus suamiku itu bergerak. Menggeliat perlahan. Lalu tetap
mendengkur halus. Kupandangi wajahnya. Hidung mancungnya menurun kepada
kedua buah cinta kami, Ghazali dan Sabila. Kata banyak orang, Ghazali
adalah fotocopy-an dari ayahnya.
Aku perhatikan bibir suamiku
yang berwarna merah. Agak tak lazim memang seorang laki-laki berbibir
merah. Masih kuingat saat bibir itu mengucap janji setia. Mitsaqan
ghalizha, sebuah perjanjian yang amat tegung dalam pandangan Allah.
Betapa mantap ia berucap dalam ijab kabul kami. Mengingatnya
menyeruakkan rasa haru. Membuat tetes kecil bergulir di kedua pipiku.
*****
Sore itu aku dan ayah ibuku sedang mengobrol di teras belakang sambil menyamil kue buatan ibu.
"Nduk, sekarang apa rencanamu selanjutnya?" Ayah tetap saja memanggilku
dengan 'Nduk', panggilan terhadap anak perempuan dalam bahasa Jawa.
"PTTmu sudah selesai. Kamu mau pilih kuliah lagi ambil spesialis atau
mau nikah?"
Dahiku mengernyit. Nikah? "Nikah Yah? Mau nikah sama siapa? Nggak ada calon nih!"
"Masih ingat Bram, putranya Om dan Tante Rono? Dulu waktu kecil sering main sama kamu."
Keluarga Ronodipuro, masih priyayi dan punya bisnis besar. Keluarga
mereka memang bersahabat dengan keluargaku. Kuingat pula Bram kecil yang
sering merebut dan merusakkan mainanku. Aku menganguk-angguk tanda
ingat.
"Sekarang Bram sudah jadi Branch Manager di perusahaan
papanya. Dia juga punya bisnis otomotif. Bengkel dan tempat modifikasi.
Ayah kemarin ke sana. Lumayan besar, pelanggannya juga banyak
sepertinya."
"Tante Rono sering ngobrol-ngobrol sama ibu. Dia
ingin mencarikan istri untuk Bram. Katanya sudah cari kemana-mana nggak
ada yang cocok. Eh setelah ketemu kamu beberapa kali dan ngobrol sama
kamu seperti kemarin itu, dia bilang pilihannya jatuh ke kamu Nduk." Ibu
menjelaskan sambil menuangkan the dari teko ke dalam cangkir ayah yang
sudah kosong. "Tante Rono itu seneng lho sama kamu. Katanya kamu cocok
jadi istri Bram."
"Oooo.begitu," ujarku.
"Bagaimana Nduk?" tanya ayah.
"Bagaimana apanya Yah?" tanyaku kembali.
"Kamu mau nggak?"
"Ihhhh Ayah. Nggak bisa dijawab sekarang dong! Harus dipikir-pikir,
harus istikharah. Paling tidak ketemu dulu. Belum tentu Bram juga
langsung mau kan Yah."
Akhirnya tibalah saat pertemuan itu. Om
Rono, Tante Rono, dan Bram datang ke rumah kami tepat pukul tujuh malam.
Setelah sedikit basa-basi di ruang tamu, kami lalu berbincang di meja
makan, berusaha mengakrabkan antara kedua keluarga.
Bram kini
tidak terlalu banyak berbeda dengan Bram kecil. Ketampanan yang telah
terlihat di masa kecil kini makin menunjukkan kesempurnaannya.
Penampilannya perlente dengan pakaian dari merek terkenal. Tercium pula
aroma wangi yang berasal dari tubuhnya. Alamak, gumamku dalam hati, aku
saja tak pernah berparfum, kecuali jika mau sholat.
Selama
perbincangan itu aku sudah merasa tidak sreg. Entah kenapa. Kalau bicara
masalah fisik, Bram memang bak pemain sinetron. Tapi namanya tidak
sreg, ya tidak sreg. Hal begini kan tidak bisa dipaksa-paksa.
Ditengah-tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba Om Rono bicara dengan nada
keras, "Bram memang harus punya istri seperti Arni. Supaya dia bisa
belajar banyak tentang agama dan tidak lagi keluyuran ke café sampai
pagi."
Semuanya langsung terdiam. Tante Rono dan Bram
memperlihatkan mimik wajah gusar mendengar kata-kata Om Rono. Aku, ayah,
dan ibu juga kaget. Ibu berusaha mencairkan suasana yang jadi sedikit
dingin dengan menawarkan sup asparagus kepada kami semua.
Oopss, rupanya Bram ini anak café. Nggak heran juga, terlihat dari
gayanya. Sepulangnya mereka dari rumah kami, ayah mengatakan akan
mencari informasi lebih jauh tentang Bram. Bagaimana kehidupan dan
pergaulannya.
Om dan Tante Rono cukup sholeh. Tapi jaman
sekarang orang tua tidak bisa dijadikan standar bagi kesholehan seorang
anak. Anak kyai belum tentu jadi kyai. Anak perampok belum tentu
perampok juga.
Aku pasrah, memohon kepada Allah diberi jodoh
yang terbaik bagiku. Aku percaya karena Dia telah berjanji dalam
firmannya Surah An-Nuur 26, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji. Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki
yang baik pula."
Kalau Bram bukan jodohku, pasti Allah akan tunjukkan jalannya, dan begitu pula jika sebaliknya.
Kabar itu justru datang dari Tante Rono sendiri. Bukan dari siapa-siapa
yang menyebarkan gossip. Bukan pula dari Toni, sepupuku yang diberi
tugas ayah untuk mencari tahu tentang Bram.
Tante Rono
berkunjung ke rumah sambil bercucuran air mata lalu mencurahkan isi
hatinya pada ibu. "Jeng, hancur sudah hati saya. Mau ditaruh dimana
wajah dan kehormatan keluarga Ronodipuro." Isak Tante Rono sesenggukan.
"Memang Bram anaknya susah diatur. Tapi saya tak menyangka semuanya jadi
begini. Rasanya kami sudah berusaha mendidiknya dengan benar."
Ibu menenangkan sambil mengusap-usap pundak Tante Rono. "Tenanglah
Mbakyu. Yang sabar. Memang ada apa tho?!" Sekonyong-konyong tangisnya
malah jadi tak terbendung. Aku bangkit menyodorkan tissue kepada Tante
Rono.
"Bram itu Jeng..dia.dia.dia.menghamili sekretarisnya!"
Seusai keterbata-bataannya, Tante Rono melanjutkan tangisnya. "Perempuan
itu menuntut untuk dinikahi. Kami tak bisa menolak."
"Astaghfirullahaladzhim!!" ujarku dan ibu bersamaan.
Benarlah ini jawaban dari Allah. Bram bukan jodohku. Aku menatap
trenyuh kepada Tante Rono. Kasihan, pasti berat sekali bebannya menerima
kenyataan darah dagingnya menghamili anak orang di luar nikah. Semoga
Bram benar-benar bertobat dan mau memperbaiki dirinya.
"Saya
nggak enak sama Jeng, sama Arni," kata Tante Rono setelah tangisnya
mereda. "Padahal rencana sudah mau lamaran. Tadinya saya berharap sekali
kita bisa besanan. Arni pasti bisa membimbing Bram untuk menjadi lebih
baik."
"Sudahlah Mbakyu. Kita tidak apa-apa kok. Keluarga kami
tetap akan menjadi sahabat keluarga Mbakyu. Semoga jodoh Bram inilah
yang terbaik. Mbakyu yang tabah ya!"
Batalnya perjodohan antara
aku dan Bram tidak memberikan dampak apapun pada kehidupanku. Aku tetap
memohon jodoh kepada Rabb-ku Yang Maha Mendengar.
Tak sampai
sebulan kemudian, dengan tak disangka-sanga, datanglah serombongan
keluarga ke rumahku. Mereka hanya punya satu tujuan, melamarku.
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar