Rabu, 18 Juli 2012

Sebening Telaga


Baru saja aku menyelesaikan shalat Dhuha ketika terdengar suara pintu diketuk berlahan beberapa kali, kukemasi mukenaku diletakkan di sisi pembaringan, sebentar kurapikan gamisku dan kusambar jilbab putih kesukaanku. Aku melangkah tergesa kusikap tirai sedikit dan dahiku sedikit terkejut. Sesosok tubuh berdiri dibalik pintu dengan mulut mendendangkan lagu yang aku sendiri nggak pernah dengar baitnya. Sedikit bimbang aku terpekur sejenak, kulirik jam yang menempel manis di dinding, sudah jam 8 pagi gumamku. Bismillah, kubuka pintu berlahan.

"Nisa. Nisa datang ya. Kemaren aku dengar dari Mbak Titik.. Seneng kalo Nisa datang.. Nisa bawa apa? Bawa oleh-oleh ya. Mana.. mana oleh-olehnya?" ternyata tamunya Om Ron adik sepupu dari Ummi, dia memang selalu bergegas ke rumah bila Ummi mengabarkan tentang kedatanganku, dan seperti biasa ketika datang selalu diawali dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, dan untuk menyikapinya aku hanya tersenyum.

"Om, Nisa buatkan minum ya, susu hangat, kopi susu hangat, apa teh?"

"Wah terima kasih Nisa, apa aja deh. Yang penting nanti Nisa harus memberi oleh-oleh. Kalo nggak bawa, Nisa harus dongengin cerita Nabi-Nabi."

"Tenang Om, Nisa buatkan minum dulu ya?"

Aku masuk ke dalam, dari dalam kulihat Om Ron sudah sibuk membolak-balik majalah-majalah Islam ku, dia memang sangat haus dan selalu antusias membaca apalagi yang berhubungan dengan Islam.

Tiba-tiba ada yang menyenggolku dari belakang, ternyata si bontot Layla, dia baru pulang belanja dengan Ummi.

"Mbak kenapa sih Om Ron selalu kesini kalo Mbak Nisa datang, huh Layla kan sering diolok-olok teman-teman, Mbak?"

"Diolok-olok apa sayang?

"Eh. Layla.. punya Om idiot.. Layla keturunan idiot. Layla kan malu."

Aku hanya tersenyum dengar celotehan adek tersayangku.

"Layla nggak boleh begitu, itu kan Om Layla, Layla harus sayang sama Om Ron, walau Om Ron agak terbelakang tapi dia kan baik ama semua orang, apalagi Layla kan pernah diajari ustadz di masjid kalo semua orang itu sama, yang membedakan hanya amal ibadahnya?"

Ummi menyahut dari belakang. Layla masih dengan muka cemberut mengangguk. Kutinggalkan mereka, aku menuju ke ruang tengah.

"Ini Om diminum, lama ya.."

"Nisa baik ya ama Om."

"Ini Nisa bawakan kumpulan kisah Nabi-Nabi dan Para Sahabat Nabi, Om harus baca ya." Mata Om Ron berbinar, kutemukan ketulusan disana.

"Tentu.. tentu Om baca, dan nanti setelah Om baca Om mau ceritain ke Layla, juga ke Iput anaknya Tante Dewi, ke Cici, Pita, dan Ayu."

"Yang kemaren sudah dibaca Om?"

"Sudah. Sudah Om baca 5 kali Nisa, soalnya Om seneng sih sama ceritanya, apalagi yang kisah Si kecil pemberani. Om sudah ceritakan di depan kelas.."

"Oh iya Om nggak sekolah. Ini kan hari sabtu, Om kan masih masuk."

Om Ron sudah tingkat 5 di SLB bagian A tempat anak-anak terbelakang mental.

"Iya Om terlambat nggak apa-apa kok, nanti Om akan bilang kalo habis mengambil oleh-oleh dari Nisa."

"Iya Ron itu becaknya sudah nunggu dari tadi, kan kasian!!!" Ummi dari dalam membawa sekotak kue, dan sebotol Susu rasa coklat kesenangan Om Ron.

"Ini dibawa, dimakan waktu istirahat."

Sebelum pergi Om Ron pamit ke Ummi, dan tak lupa mencium sayang si bontot Layla.

Om Ron adalah adik sepupu dari Ummi, anak adiknya Nenek. Dia anak terkecil, kata Ummi dari kecil dia memang agak terbelakang dalam menangkap pelajaran, makanya dimasukkan ke SLB, namun yang membanggakan dia sangat senang membaca, apalagi yang religi, dan shalatnya pun rajin.

"Nisa nanti ada acara nggak?" Ummi menepuk bahuku dari belakang, pasti Ummi mau mengajak ke suatu tempat, memang kebiasaan Ummi kalo membutuhkan bantuan selalu menanyakan dan mendiskusikan ke anak-anaknya itu yang membuat kami segan sekaligus akrab dengan Ummi.

"Tidak Ummi, memang mau kemana?"

"Kita ke rumah Tante Rum yuk nanti sore, kebetulan sehabis Maghrib Ummi ada kajian di tempat dekatnya tante, mungkin hanya sampai jam setengah 8, Nisa ikut aja, enak kok kajiannya, Ustadzahnya masih muda lha. Sepulangnya nanti kita ketempat Tante Rum". Aku mengangguk mantap.

"Layla ikut Ummi" Si kecil merengek dibelakang. Dia memang selalu menjadi ekor kemana pun Ummi pergi.

===== *** =====
Rumah di pojok jalan ini sudah sangat berbeda dengan 2 tahun yang lalu, dulu masih mungil dengan pohon mangga di depan dan sawo kecik besar membuat rimbun dan sejuk terasa. Namun sekarang pohon mangga itu diganti dengan taman dihiasi gemericik air dari kolam ikan kecil yang tertata rapi, dan sawo kecik yang dulu gagah menjulang mengayomi penghuninya kini berubah menjadi garasi besar dengan 2 mobil terparkir didalamnya. Ya usaha Tante Rum semakin maju rupanya. Tante Rum memang sangat pintar berbisnis.

Dengan riang Layla berlari membuka pagar, aku dan Ummi hanya mengikutinya dibelakang sambil geleng-geleng. Layla selalu senang diajak ke Tante Rum karena ada Mitha yang punya mainan banyak, Mitha memang seusia Layla. Dan kali ini pun Layla langsung lari mencari Mitha dan keduanya sudah asyik bercengkrama ramai, sementara dari dalam Tante Rum menyambut kami bahagia, dia mencium pipi kanan kiriku.

"Nisa, lama nggak pernah main kesini."

Dan kami pun diseret masuk kedalam. Pasti tante punya berita menarik, biasanya kalo menyambut kedatangan kami dengan antusias, tante pasti punya kabar yang menarik.

"Tik kata BuLik Leha sama MbakYu Dar, Roni mau dimasukkan ke RSJ, apa nggak sadis itu?"

Belum sampai pantat Ummi menyentuh sofa ruang tengah Tante Rum, Ummi langsung terlonjak. "Masya Allah." Aku pun ikut terbelalak, Om Ron yang walaupun mentalnya terbelakang, namun dia masih sehat, masih waras, membaca dia masih lancar, dan yang terpenting dia tidak pernah merugikan orang lain, tidak pernah membuat ketakutan orang lain, bahkan anak-anak sekitarnya menyenanginya, karena dia suka membacakan cerita-cerita Nabi ke mereka, lalu kalo disuruh ke RSJ, bagaimana perasaannya. Aku terhenyak, memang dari dulu Ibu nya Om Ron begitu tidak bisa menerima, bahwa dia mempunyai anak cacat, dulu kata Ummi, Eyang Leha sempat mau memasukkan Om Ron ke panti asuhan saat diketahui anak itu perkembangannya lambat, untunglah saat itu Eyang Buyut masih ada, jadi kejadian itu ada yang mencegahkan, namun sekarang?

"Astagifirullah aladzim, bagaimana ceritanya Rum, kok Dar bisa seperti itu."

"Kemaren pas arisan keluarga Mbakyu nggak datang, masalah itu dibahas ramai Mbak, mereka merasa malu, mereka atas nama keluarga besar kita Sosrodiningrat merasa terhina karena mempunyai anak yang agak miring kata mereka, anak yang idiot, sebenarnya banyak yang protes dengan keputusan itu Mbakyu, tapi Mbakyu tau sendiri kan gimana Bulik itu kalo sudah ada keinginan, pasti nggak bisa disanggah."

"Astagfirullah aladzim, kita harus mencegahnya Rum, dia itu kan sodara kita, harusnya orang kayak Ron itu harus disayangi, bukan di benci, dia itu anak yang baik."

"Iya Mbak, saya setuju dengan itu."

Tante Rum dengan Ummi saling berpandangan, dan sedetik kemudian mereka menatapku bersamaan. Ditatap seperti itu aku merasa tersudut. Dan akhirnya bersuara.

"Ummi, Tante, kok menatap Nisa?, Nisa juga nggak setuju dengan itu, dan Nisa tau pasti Ummi dan tante akan mendelegasikan Nisa untuk ngomong ama Eyang Leha dan Bulik Dar."

Mereka berdua tertawa bersamaan, dan bersamaan menganggukkan kepala, aku memang dapat menangkap dari sorot mata mereka. Memang dalam keluarga besar kami Sosrodiningrat, Eyang Leha dan Bulik Dar adalah orang yang paling keras, orang yang nggak bisa dibantah kehendaknya. Kalo sudah ngomong A pasti harus A, dan banyak yang bilang mereka Ibu dan Anak yang keras kepala. Tapi aku sendiri juga nggak tahu Eyang Leha sama Bulik Dar sangat sayang sama aku, itu yang sering diucapkan Ummi. Mereka bilang mungkin karena pembawaanku yang kalem, dan yang nggak pernah membantah. Sehingga dua batu karang itu bisa luluh padaku, Wallahualam.

"Nisa, kita akan berusaha mencegah itu, namun kamu pun membantu sepenuhnya, dan kamu merupakan kunci untuk melunakkan hati Bulik sama Mbakyu Dar."

Aku terdiam sejenak, kupandangi Ummi dan Tante Rum, mereka pun tampak menerawang jauh ke halaman samping. Aku tau ada tugas berat yang kami emban esok harinya.

Suara alunan jangkrik berkolaborasi dengan kodok di samping rumah yang kebetulan lapangan bola milik kampung yang telah berubah menjadi rawa-rawa besar, membuat mereka para kodok dan jangkrik kerasan berpesta disana. Suasana seperti itu memang kadang melenakan.

Dentangan Jam 11 kali membawa kantuk kami ke tempat tidur, ya hari itu Aku, Ummi sama dek Layla sengaja menginap di rumah Tante Rum karena hujan deras turun tak henti-hentinya. Masalah tentang Om Ron sementara di pending di mulut namun dipikiran menjadi beban, sehingga terlena terbawa mimpi panjang.

===== *** =====
Ummi hari ini memasak Kare ayam kesukaanku, dan memang aku tidak bisa mungkir bahwa masakan Ummi sangat pantas diacungi jempol. Siip Deh. Racikan tangannya mampu melahirkan masakan yang nggak ingin lepas dari lidah, dengan nasi hangat, kare ayam sama sambel goreng hati kami lahap sarapan, mata Abi pun tampak bercahaya. Abi memang paling kerasan dengan masakan Ummi, hingga selalu beliau sempatkan makan dirumah saat istirahat kantor. Tapi tiba- tiba cengkerama kami di meja makan terhenti sejenak saat tiba-tiba suara pintu diketuk keras, Ummi bergegas membukanya.

"Astagfirullah Aladzim. Roni kenapa badanmu bengap." Ummi berkata setengah berteriak, kami segera lari kearah ruang depan. Kami terperanjat tampak Om Ron dengan muka bengap dan wajah ketakutan duduk lemas di sofa tamu, sekejap diamati mata Om Ron mengalir kristal bening.

"Astagfirullah." kami bergumam bersamaan.

"Nisa buatkan teh hangat." Ummi berkata sambil tangannya menenangkan Om Ron, kelihatannya sesuatu telah terjadi, dia tampak shok.

"Pelan-pelan Ron, ceritakan ke Mbakyu."

Tiba-tiba tangis Om Ron meledak.

"Ibu sama Mbak Dar, mereka mengurungku dikamar, katanya Ron mau dimasukkan rumah sakit orang gila, kata mereka Ron sudah gila, Ron tidak mau, Ron membantah, lalu mereka memukul Ron." Om Ron menangis lagi sesenggukan, kusodorkan teh hangatnya.

"Innalillahi."

Suara pagar berderit, tampak beberapa orang masuk dengan tergesa-gesa.

"Ron. Roni bocah gila dimana kamu?" Lengkingan suara yang sangat kami kenal, suara Eyang Leha. Om Roni berdiri bersembunyi dibalik punggung Abi. Jelas dimukanya tampak bias ketakutan. Ibu maju mencoba menenangkan Eyang. Sementara Layla memelukku, dia rupanya ketakutan. Muka Eyang sama Bulik Dar merah menandakan kemarahan yang sangat.

"Sudah Tik jangan halangi kami, Ron harus dimasukkan ke RSJ, kalo tidak dia akan menjadi malu keluarga saja."

"Sabar dik Dar, nyebut dik, nyebut." Abi ikut menenangkan, tapi hal itu hanyalah sia-sia Eyang tetep bersikukuh, saat Abi dan Ummi terus menenangkan, Om Ron bersama ketakutannya semakin beringsut ke sudut ruang, dan sekejap kemudian dia lari keluar rumah. Sejenak kami terperanjat, Abi langsung mengejarnya.

"Ron!!!!!"

Ternyata dia berlari jauh membawa ketakutannya.

"Bulik lihat, dia tertekan. Kasihan Roni, tidak sepantasnya kalian berbuat seperti itu." Ummi berkata dengan penuh tekanan, suaranya sampai bergetar parau.

"Iya Eyang, kami nggak setuju kalo Om Ron dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Om Ron butuh kasih sayang keluarganya, itu yang dibutuhkan sekarang, bukannya malah dikurung atau dimasukkan ke rumah sakit, itu malah akan semakin membuat dia sakit."

Eyang Leha dan Bulik Dar menatapku kaget, mereka tidak menyangka aku akan berkata begitu karena mereka melihat aku adalah anak yang paling menurut di keluarga.

"Nisa, kamu mahasiswa Psikologi, harusnya kamu tau bahwa Ron itu sakit!!! Ron itu gila." Suara Bulik Dar meninggi, aku mundur beberapa jengkal, tergidik. Abi memegang pundakku, menenangkan. Ummi menggeleng padaku, menandakan aku tidak usah meneruskan. Aku mengangguk dan hanya diam. Tiba-tiba Layla menangis keras, dan menjerit.

"Eyang Leha sama Bulik Dar jahat seperti setan, Om Ron orang yang baik, Om Ron sangat menyayangi kami, kami pun sayang ke Om Ron. Layla benci sama kalian. Bi kita cari Om Ron!"

Semua memandang Layla. Muka Eyang, sama Bulik semakin memerah.

"Sudahlah, dia sudah pergi, biarkan saja dia minggat. Assalamu'alaikum, kami pamit."

Nada suara Eyang Leha sedikit melemah seiring tubuh mereka meninggalkan pelataran rumah kami. Ummi dan Abi hanya menatapnya perih.

===== *** =====
Ujian telah selesai, liburan akhir semester menjelang, lega, kuambil nafas panjang dan kuhempaskan berlahan, plong. Segera aku beranjak ke wartel samping tempat kost ku, kupencet nomor rumah dan mengabarkan kalo aku akan pulang, Layla yang menerima pertama kali senang menyambutnya. Maklum aku sudah dua bulan tidak pulang, Ummi menyahutnya dibelakang.

"Nis, jangan lupa pesanan Om Ron, buku Iqro' jilid 1-6 tiga bendhel, Qur'an kecil 5 buah."

"Ya Ummi."

Aku menutup telepon dengan hati riang, liburan kali ini pasti lebih bermakna karena aku bisa Bantu Om Ron di Mushala samping rumah, mengajar anak-anak TPA mengaji. Mushala itu dibangun Abi untuk memberi kesibukan pada Om Ron setelah 2 tahun dia menempuh Ilmu di pondok pesantren di Solo. Dulu setelah pelariannya karena tertekan oleh Eyang Leha dan Bulik Dar kami bisa menemukannya dan meyakinkannya untuk belajar di pesantren. Alhamdullillah sekarang Om Ron mempunyai 20 murid.

Aku tersenyum bahagia saat menenteng Iqro' pesanannya yang aku beli kemaren, kubayangkan asyiknya menjadi guru dan menjadi assisten Om Ron dua minggu. ***




-Ardhi Nugroho-


 

Bukankah Mereka Adalah Titipan ?







Anak lelaki itu berumur lima atau enam tahun. Ia mengenakan kemeja putih dan pullover kotak-kotak hijau dengan logo taman kanak-kanak di dada kiri. Di bahunya tersandang tas punggung merah dan di dadanya tersilang tali botol minuman. Ia kelihatan lucu dan manis.

Begitu naik ke dalam angkot, bocah itu menunjukkan hasil origaminya pada wanita yang mungkin ibunya. Seekor burung yang sedikit kusut dan penyok. Ia juga menyanyikan lagu baru yang diajari gurunya hari itu.

Lihat ibu keretaku yang baru
cukup besar untuk ayah dan ibu
roda tiga buatanku sendiri
dari kulit buah jeruk bali..."

Aku tersenyum geli mendengar suaranya yang agak sumbang tapi penuh semangat. Bocah itu balas tersenyum padaku, kemudian kembali asyik memberondong ibunya dengan berbagai cerita. Mulutnya tak henti mengunyah donat yang barangkali dibelikan ibunya di depan sekolah. Ibunya menyahut sesekali dengan anggukan atau gumaman setengah tak peduli, sementara tangannya mengibaskan lukisan krayon anaknya untuk menghalau panas.

Aku tidak menyalahkannya. Cuaca siang itu memang panas dan kemacetan jalan membuat udara pengap. Melihat bungkusan yang terserak di kakinya, aku yakin ia telah menghabiskan paginya untuk berbelanja kebutuhan dapur. Tak heran ia kelihatan sangat letih, mengantuk dan tak begitu bersemangat mendengar cerita anaknya di sekolah hari itu.

Atmosfer yang menyengat tidak mengalihkan perhatianku dari anak itu. Kureguk tiap kata dan lagu yang dinyanyikannya seperti pengelana kehausan yang menemukan wadi di tengah gurun. Alangkah rindunya aku akan semua itu. Aku tak ingin membandingkan anakku dengan bocah lucu di angkot itu, tapi mau tak mau Khalid singgah ke dalam benakku dan merusak kenikmatanku.

Setiap kali memeriksakan diri selama mengandung Khalid, bidan selalu mengatakan kehamilanku normal dan bayiku sehat. Karena itu aku dan suami sama sekali tak siap waktu dokter memberi tahu bahwa Khalid tidak normal. Ia lahir dengan Down syndrome.

Menyakitkan. Masa depan anakku sudah ditentukan oleh dokter hanya beberapa menit setelah kelahirannya. Khalid tidak akan tumbuh seperti anak normal dan dia tidak akan bisa menjadi orang dewasa normal yang mampu mengurus dirinya sendiri.

Selain itu dokter juga menemukan kelainan pada jantungnya yang harus diperbaiki dengan pembedahan. Ada juga gangguan mata dan tonsil. Hal yang menurut dokter biasa menimpa anak Down syndrome.

Shock yang kualami setelah melahirkan Khalid cukup berat hingga aku harus dirawat agak lama di rumah sakit. Aku sangat tertekan hingga bahkan tak bisa menyusui Khalid. Dokter memperkenalkanku dengan wanita pakar penanganan anak Down syndrome. Wanita itu memberikan buku-buku dan brosur kepada kami.

Tapi, semua yang kubaca malah semakin membuatku tertekan. Sejak dokter menyatakan bahwa aku positif mengandung, aku selalu berdoa dan bermimpi tentang seorang anak yang cerdas dan lincah. Anak yang akan kubimbing mengenal Allah dan Rasul-Nya. Yang akan kuajari mengaji dan shalat agar ia bisa mendoakan kedua orang tuanya. Ia akan kubawa tafakur alam ke tempat-tempat yang indah agar pandai bersyukur dan memiliki sifat tawadhu.

Aku akan memperkenalkannya pada saudara-saudaranya yang yatim dan papa agar hatinya lembut dan peka. Yang akan mencintai buku-buku seperti aku dan ayahnya. Anak yang akan jadi seorang pejuang di jalan Allah, demi kebangkitan dan kejayaan Islam seperti panglima gagah itu, Khalid bin Walid.

Kubayangkan jari mungil anakku menyusuri huruf-huruf dalam lembaran mushaf Al-Qur'an. Jika lelaki, ia pasti lucu dalam baju koko dan peci mungilnya dan jika perempuan, ia pasti manis dalam jilbab kecilnya yang berbunga dan berenda.

Rasanya aku bahkan sudah bisa mendengar suaranya yang bening melantunkan ayat-ayat suci itu. Suara terindah yang pernah kudengar.

Lalu ke mana bisa kukubur kecewaku saat mendapati Khalid tak mungkin mewujudkan semua impianku. Aku hanya bisa berdoa siang malam memohon kekuatan. Aku mengintrospeksi diri, mengingat kembali apa yang telah kulakukan hingga Allah menghukumku dengan memberikan Khalid.

Hingga suatu hari kalimat itu menohokku. Anakku adalah amanat-Nya, bukan hukuman, bukan aib. Hanya titipan, bukan milikku. Apakah aku berhak menggugat jika titipan-Nya ternyata tidak seperti anak-anak lain? Aku hanya ditugaskan menjaga dan mengasuhnya dengan cinta, karena ia dititipkan Allah yang rahman dan rahim-Nya tak pernah surut dari sisiku. Bukan tugasku menilai apakah Khalid layak jadi anakku atau tidak. Setelah itu aku kembali menemukan ketenangan.

Tapi tak urung kesedihan itu kerap. Sangat menyakitkan. Tiap kubawa Khalid ke dokter dan melihat ibu lain dengan bayi seumur Khalid, aku kembali terbenam dalam kepiluan. Entah untuk Khalid atau untuk diriku sendiri.

Bulan demi bulan berlalu. Sementara bayi lain mulai tertawa dan mengeluarkan suara-suara lucu, Khalid hanya diam. Ia memandang kosong ke depan.

Tiap hari suamiku dan aku harus bergantian merangsang otaknya dengan mainan warna-warna dan kerincingan yang ribut. Khalid baru menunjukkan reaksi saat usianya hampir delapan bulan.

Khalid baru belajar berjalan di usia dua tahun. Bicaranya tak pernah selancar anak-anak lain dan kosa katanya sangat terbatas. Ia tak bisa mandi dan berpakaian sendiri hingga usianya hampir sembilan tahun. Ia harus disuapi tiap waktu makan sampai ia bisa makan sendiri beberapa bulan terakhir ini.

Yang paling menjengkelkan, sulit sekali membiasakannya buang air di kamar mandi walaupun aku dan suamiku sudah mengajarinya selama delapan tahun dari sepuluh tahun usianya.

Mengajari Khalid salat dan mengaji hampir tak mungkin. Khalid hanya bisa mengikuti gerakan-gerakan salat tanpa bisa menghafal bacaannya.

Setelah beberapa lama, kami menyadari kesalahan kami dan mulai dari awal sekali. Mengakrabkan Khalid dengan Allah dan Islam. Sesuatu yang lebih mudah dilakukan dan dipahami Khalid.

"Di belakang rumah ada pohon jambuu..." suara lantang bocah berseragam TK diangkot itu mengembalikan perhatianku pada polahnya yang kocak. Tapi kali itu aku tak bisa menikmatinya tanpa merasa iri. Iri pada ibu yang tak menyadari besarnya nikmat Allah yang dimilikinya. Ada kegeraman dan rasa kasihan pada diri sendiri yang tiba-tiba bergolak dan menenggelamkanku.

Membuat dadaku sesak dan leherku tercekik. Aku tak tahu apakah harus menyesal atau gembira saat anak itu akhirnya turun dari angkot.

Di bangku yang mereka tinggalkan kulihat burung-burungan kertas itu gepeng. Kupungut dan kuperbaiki. Tiba-tiba mataku kabur oleh air mata. Khalid tak bisa melukis dengan krayon atau membuat origami. Koordinasi tangannya lemah sekali.

Dalam kepalanku yang gemetar, burung-burungan itu kuremas menjadi gumpalan kertas. Aku tak sanggup lagi menahan isak. Dengan suara tercekat kusuruh sopir berhenti. Kusodorkan ongkos dan turun, walaupun rumahku masih jauh.

Aku duduk di halte yang sepi. Menarik nafas dalam-dalam dan mengeringkan air mata. Saat aku menengadah mataku tertambat pada papan putih di seberang jalan. Sebuah masjid. Ya Allah, inikah teguran-Mu.? Aku menyeberang. Segera kuambil wudhu dan shalat dua rakaat. Air mataku menetes saat kubaca ayat kedua belas dari surat lukman... Anisykurlillahi....

Usai mengucap salam aku tercenung. Kekalutan yang sempat menguasai sudah berhasil kukendalikan. Aku merasa kosong, tapi damai. Lalu satu- satu fragmen kehidupan Khalid mulai kembali ke dalam benakku. Bukan gambaran muram tentang kekurangannya, tapi keistimewaan-keistimewaan kecil yang mengimbangi dan melengkapi hidupnya.

Khalid suka sekali musik. Ia sulit menangkap dan menghafal lirik, tapi kenikmatan yang terlukis di wajahnya saat mendengarkan musik adalah keindahan tersendiri. Ia juga tak pernah nakal dan usil, selalu ramah dan murah senyum. Ia tak pernah marah dan ngambek, dan jika dimarahi, cepat kembali ceria.

Ia sangat mencintai adiknya Fatimah, yang lahir empat tahun lalu. Kami sempat khawatir Khalid akan cemburu dengan kehadiran adiknya. Tapi ia malah antusias membantuku mengurus Fatimah. Sering kudapati Khalid duduk menatap adiknya yang tertidur dengan ekspresi terpesona yang tak terlukiskan.

Fatimah normal dan cerdas sekali tapi ia menerima abangnya tanpa syarat. Kemesraan di antara keduanya selalu menerbitkan syukur di hatiku dan ayah mereka. Mengurus Khalid memang menuntut kesabaran dan kegigihan ekstra dibandingkan mengasuh anak biasa. Tapi Khalid memang bukan anak biasa.

Ia telah mengajarkan kepada kami makna mencintai tanpa pamrih yang hakiki. Di zaman saat orang memburu segala yang superlatif; tercantik, terpandai, tergesit, anakku tidak akan bisa bersaing. Ia tidak mungkin menjadi teknolog, ekonom atau da'i tersohor.

Tapi apakah itu akan mengurangi cinta kami padanya? Mengurangi kegembiraan melihat prestasi-prestasi kecilnya yang dianggap remeh dan sepele orang lain seperti bisa berpakaian dan makan sendiri? Aku dan ayahnya tak akan memperoleh apa-apa darinya. Kemungkinan besar Khalid akan terus tergantung pada kami. Dan setelah kami tak sanggup lagi, mungkin pada Fatimah.

Tapi kami memang tak lagi mengharapkan apapun darinya. Kami hanya mencintainya. Kudorong gerbang rumah dan kuserukan salam. Sahutan riang menyambutku. Pintu terkuak. Fatimah menghambur memelukku sementara abangnya tersenyum lebar sambil berjalan goyah di belakangnya.

"Ibu bawa apa, bawa apa?" tanya Fatimah. Ia memekik ketika kukeluarkan sekantung mangga ranum dari keranjang belanjaku. Khalid tersenyum. Matanya yang semula kosong berbinar. Mangga adalah buah kesukaannya.

Aku masuk ke kamar untuk berganti baju setelah berpesan pada pembantu untuk mencuci dan mengupaskan mangga buat anak-anak. Saat aku keluar, mereka tidak berada di meja makan.

Kupanggil mereka dan kudengar sahutan dari halaman belakang. Di depan kandang burung parkit Fatimah melonjak-lonjak dan tertawa melihat abangnya dengan sabar menyodorkan potongan mangga lewat jeruji bambu.

"Ayo kuning! Jangan diam saja! Tuh diambil si hijau deh!" teriak Fatimah. Satu demi satu burung-burung parkit dalam kandang terbang menyambar potongan mangga dari tangan Khalid. Aku bertasbih. Mataku pedih. Sudah lama aku mengamati keistimewaan Khalid untuk mencintai dengan keikhlasan yang bersih dari egoisme anak seusianya. Cintanya sangat tulus pada burung-burung kesayangan suamiku, pada ikan hias dan ayam kate yang kami pelihara untuk mengajar anak-anak bertanggung jawab.

Bahkan pada bunga-bungaku di kebun. Ia gembira mengurus semua itu, walaupun tak pernah mendapat imbalan apapun dari kami. Kelembutannya terulur bahkan pada kucing-kucing liar yang sering diberinya makan atau anak-anak tetangga yang kerap mendapat bagian dari jatah kue dan buahnya tanpa menuntut balasan apapun.

Aku memang tak punya alasan untuk bersedih dan kecewa. Khalid mungkin tak bisa membaca dan mengaji. Tapi perasaannya halus dan penuh kasih sayang. Dan aku sangat bersyukur atas kelebihannya. Itu sudah cukup menjadi anugrah terindah dalam hidupku…

Ketika Cinta Harus Usai (Part 2)


Suatu siang di hari Ahad, 10 tahun yang lalu, serombongan keluarga datang. Aku, ayah dan ibu kaget bukan kepalang. Kami tidak mengira akan ada yang datang membawa sepasukan orang dengan berderet mobil yang tiba-tiba sudah rapi parkir di depan rumah. Dua hari sebelumnya Yudhis memang meneleponku. Katanya ia akan ke rumahku Ahad ini. Tapi, siapa yang mengira seperti ini. Kupikir ia sekedar silaturahmi atau ada kepentingan tertentu.

Dengan sedikit basa-basi, orang tua Yudhis menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamarku. Ditodong begini aku tak sanggup berkutik. Bunga-bunga di taman hatiku pun semerbak, setelah sekian lama dipendam kini bermekaran.

Ayah, ibu dan keluarga semua menyukai Yudhis. Tentu saja! Apa lagi yang kurang dari seorang Yudhis? Tampan, pandai, kaya, dan sholeh. Ayah Yudhis juga pengusaha sukses, walau kalibernya sedikit di bawah Om Rono.

Yudhis adalah sosok sempurna yang berwujud nyata. Membuat bangga bagi yang menggandengnya. Menyenangkan diajak ngobrol. Tidak memalukan bagi orangtua yang menjadikannya menantu. Dan pasti akan jadi suami yang bisa membimbingku, bisa mengerti aku, dan menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Siapalah yang sanggup menolak Yudhis?

Terlihat orangtuaku langsung jatuh hati pada Yudhis. Tapi ayah tetap menyerahkan keputusan padaku, karena akulah yang akan menjalani pernikahan. Aku diam ketika ditanya.

"Arni diam saja, berarti iya. Begitu kan Pak Margono?" ujar ayah Yudhis. Ayah mengangguk-angguk saja.

"Maaf," aku berpaling ke arah Yudhis, "belum bisa langsung menjawab ya atau tidak. Beri aku kesempatan untuk mempertimbangkan dan sholat istikharah."

"Oh monggo, silahkan saja. Kalau Arni butuh waktu, sampaikan saja kira-kira berapa lama akan mempertimbangkan lamaran ini dan kapan akan memberikan jawaban. Tapi jangan lama-lama. Kasian Yudhis lho...!" ayah Yudhis menjawab sambil berseloroh.

Aku diam saja, bingung mau menjawab apa. Aku sendiri tidak tahu berapa lama yang kubutuhkan untuk mengambil keputusan terpenting dalam hidupku ini.

"Begini saja Mas, kita sama-sama berdoa saja semoga semua dimudahkan oleh Allah SWT. Nanti kalau Arni sudah bisa memutuskan, saya yang akan menghubungi Mas Permadi. Bagaimana Mas?" kata ayah.

Ayah Yudhis melirik ke arah Yudhis. Yudhis mengangguk pelan. "Baiklah Pak Margono, kalau memang begitu. Yah, memang sebaiknya hal-hal seperti pernikahan ini tidak terburu-buru menjawabnya. Kami memang tidak mengharapkan ada jawaban saat ini juga. Paling tidak kita sudah silaturahmi, nambah saudara. Kami juga ingin mengenal Arni lebih dekat, juga Bapak dan Ibu sekeluarga. Karena, terus terang kami juga kaget. Yudhis ini nggak ada angin nggak ada hujan, tahu-tahu minta saya dan mamanya untuk melamar. Padahal saya nggak pernah lihat Yudhis itu pacaran. Lha ini anak mau nikah sama siapa tho? Paling tidak kan calonnya mesti dikenalkan dulu, diajak main ke rumah. Bergaul sama keluarga besar. Dilihat bibit, bebet, bobot. Dan itu kan nggak langsung ujug-ujug begini, pakai waktu. Tapi Yudhis ngotot, katanya sistemnya bukan begitu, nggak ada pacaran-pacaran. Ya sudah akhirnya kami berembug dengan keluarga untuk datang hari ini. Kami ini hanya mendapatkan sedikit gambaran tentang Arni dan keluarga dari Yudhis. Jadi kami senang sekali bisa berkenalan dengan Bapak sekeluaga. Kami minta maaf kalau kedatangan kami merepotkan."

"Wah nggak kok Mas, sama sekali tidak merepotkan. Lha malah seneng kok dikunjungi sekeluarga besar begini." Ayah tersenyum menanggapi penuturan ayah Yudhis yang panjang dan lebar. "Kami harap Yudhis bersedia menunggu jawaban dari Arni. Dan kami mohon apapun jawabannya nanti tidak membuat rasa tidak enak diantara kita semua. Mudah-mudahan masih bisa terus bersilaturahmi ya Mas...!"

Malamnya kuceritakan kedatangan Yudhis sekeluarga kepada sahabatku yang juga satu kuliah dengan aku dan Yudhis dulu. Menurutnya, dari informasi yang bisa dipercaya, Yudhis memang sudah menyukaiku sejak kuliah. Oh, itukah sebabnya ia selalu memilihku menjadi sekretaris? Katanya, ketika kabar aku akan dilamar oleh Bram sampai ke telinganya, Yudhis kalang kabut. Dan akhirnya tanpa ba bi bu ia langsung datang melamar.

Akhirnya, Yudhis berhasil membawaku ke pelaminan. Betapa bangganya aku bersanding dengannya. Sang aktivis yang didamba banyak gadis. Dan kenyataannya akulah yang mendapatkannya, setelah menyingkirkan banyak saingan di hati Yudhis. Kudapati tatapan mata cemburu dan iri dari beberapa teman dan adik kelas yang kutahu pernah menyukai Yudhis, saat mereka datang ke resepsi pernikahan kami.

Hari-hari kami selanjutnya tentulah sangat indah. Bak lapis legit yang manisnya selalu ada di setiap gigitan. Tak ada duka. Tak ada lagi gelisah, gundah. Semua yang ada hanyalah bahagia dan bahagia. Lalu cinta kami berbuah. Lahir Ghazali, lalu Sabila. Semuanya menambah manisnya cinta kami.

Di awal pernikahan kami, aku dan Yudhis tetap aktif di dalam kegiatan dakwah dan sosial. Hampir setiap malam kami habiskan dengan tahajud berjamaah.


*****


Kini air mataku mengalir di kedua pipiku. Aku terisak tak bersuara. Memandangi wajah tampan yang tetap terlelap tenang.

Ramadhan yang lalu, tidak lagi kami lewati dengan penuh syahdu. Tak ada tarawih bersama. Tak ada tilawah bersama anak-anak. Jika dihitung, Yudhis hanya sempat 3 kali berbuka puasa di rumah. Sisa yang 27 hari entah berbuka puasa di mana. Ia selalu pulang malam, bahkan Subuh sekalian, setelah orang-orang selesai bersahur.

Beberapa tahun yang lalu, Yudhis sibuk, aku pun sibuk. Sebagai dokter spesialis jantung, Yudhis tergolong dokter muda yang cukup laris. Aku sibuk mengurus anak, rumah, dan praktek di puskesmas. Kesibukan kami membuat tak lagi aktif dan terikat dengan kegiatan dakwah yang sebelumnya kami geluti. Tali temali yang selama ini membentengi, satu persatu mulai putus.

Di awal karirnya, Yudhis sering bercerita ia beberapa kali terlewat waktu sholat kalau sedang ada operasi yang memakan waktu berjam-jam, dari satu waktu sholat ke waktu sholat yang lain. Aku selalu mengingatkan agar ia selalu sholat tepat waktu.

"Kalau lagi operasi mana bisa ditinggal," kata Yudhis saat aku menegurnya. "Masa untuk sholat nggak bisa ditinggal sebentar saja?" kataku.

"Kamu kayak nggak ngerti saja. Kalau ditinggal bisa-bisa pasiennya meninggal. Nanti keluarga pasien menuntut dan menuduh malpraktek. Yah, ini kan darurat, nggak apa-apa kan?" kata Yudhis enteng. Awalnya ia menganggap darurat, tapi kali kesekian saat tidak ada darurat, ia semakin menganggapnya enteng. Aku heran dengan sikapnya yang sangat mudah menggampangkan sholat.

Entah kapan dan bagaimana mulainya, Yudhis mulai sering pulang malam di luar jadwal rumah sakit. Namun, aku percaya penuh padanya. Dan sebagai istri yang baik aku berusaha untuk tak banyak bertanya yang macam-macam. Yudhis mulai mempunyai komunitas tersendiri dalam lingkungannya. Komunitas yang sangat berbeda dengan komunitas kami semasa kuliah dulu.

Ibadah kami sangat garing. Yudhis malas mengimamiku. Kalau ia capek, aku disuruh sholat sendirian. Apalagi Qiyamullail, sudah lama sekali kami tinggalkan. Capek! Begitu selalu alasannya. Hubungan di tempat tidur juga terkena imbasnya. Segala-galanya jadi kering, tanpa ruh. Menjalaninya bagai rutinitas dan kewajiban semata.

Buah cinta kami mulai besar dan mulai nakal. Aku sering kewalahan menghadapinya sendirian. Kalau aku bicara pada Yudhis, jawabnya, "Lho itu tanggung jawabmu sebagai ibu. Kamu bisa mendidik anak nggak sih? Tugasku itu cari uang!"

Ia pasti lupa isi khutbah nikah di pernikahan kami dulu. "Mendidik anak adalah tugas kedua orang tua, baik ibu maupun bapak. Ayah yang menjadi imam harus bisa menjadi nahkoda yang baik bagi biduk rumah tangganya. Dasar-dasar pendidikan itu harus berdasarkan arahan sang ayah."

Kadangkala aku bisa sabar menghadapi Yudhis, tapi kadang pula kami bertengkar hebat. Yudhis semakin sering pulang diatas jam 1 pagi. Kalau kutelepon ke rumas sakit, dijawab kalau Yudhis sudah pulang dan tidak ada jadwal yang mengharuskannya pulang pagi. Walau begitu aku tetap berkata pada diriku sendiri, everything runs smooth, everything is ok.

Jam berapa pun ia pulang, aku tetap berusaha melayaninya. Mulai dari membuatkannya teh, kopi atau susu panas. Atau menyiapkan air panas kalau ia ingin mandi. Secapek apapun aku, kuusahakan sekuat tenaga untuk menyambut kedatangannya dengan senyum.

Yudhislah yang biasa pulang dengan wajah kusut masai dan mata merah. Tanpa senyum. Hanya perintah yang keluar dari bibir merahnya. Kadang-kadang ia bersikap manis. Tapi itu hanya jika ia ingin melampiaskan hasratnya padaku. Aku bukanlah seorang istri yang mau dilaknat oleh malaikat hingga pagi. Tugas seorang istri berusaha kutunaikan dengan baik.

Malam-malam panjang, ketika menanti Yudhis pulang, sering kuisi dengan sholat tahajud. Aku memohon agak Allah membuka kembali hati Yudhis dan memberikan takdir yang baik bagi kami sekeluarga.

"Arni, aku ada berita nih! Tapi kamu jangan kaget ya. Kamu percaya kan sama aku? Ini tentang Yudhis," suara Toni, sepupuku, terdengar di HPku. Aku mengangguk walau tahu ia tak akan melihat anggukanku.

"Aku beberapa kali ini melihat suamimu. Pertama kali aku lihat dia lagi makan siang sama perempuan yang rambutnya dicat kemerahan di Chopstix Pondok Indah Mall. Nggak jauh kan dari tempat suamimu praktek."

Toni melanjutkan, "Bukan cuma itu, aku pernah nguntit suamimu itu ke beberapa tempat. Afterhour, D'S Place, Barbados."

"Oh ya?" kataku datar.

"Kamu kok nggak kaget?" tanya Toni.

"Kaget? Memang kenapa?" tanyaku bingung.

"Arni! Itu tuh tempat dugem, tau nggak?" jawab Toni.

"Du...gem?"

"Itu lho dunia gemerlap. Afterhour itu bar dan tempat billiard. Yang dua lagi yah semacam itu, sama saja. Aku lihat Yudhis sama cewek dengan mata kepala sendiri. Percaya deh, dia minum minuman, turun ke floor, peluk-pelukan sama cewek sok bule itu." Nada suara Toni berapi-api penuh emosi.

Aku tak percaya, gumam bathinku. Tapi tak urung, tangan ini gemetar memegang HP. "Kamu salah orang mungkin Ton. Orang yang mirip Yudhis."

"Salah orang bagaimana. Jelas banget gitu kok! Aku ngeliat dia sekitar jam 1 malem lewat. Dia sering nggak ada di rumah nggak kalau jam-jam segitu?"

Aku tersentak. Ya, Yudhis memang sering pulang pagi, dan ia nyata-nyata tidak sedang tugas di rumah sakit. Tapi...main billiard, minum, berpelukan dengan perempuan...? Rasanya sulit hati ini mempercayainya.

Hari ini, baru saja, semua pertanyaan yang bergumul di hatiku dan segala hal yeng menjadi rahasia selama ini terkuak lebar. Yudhis berkata jujur padaku bahwa ia mencintai perempuan lain, ingin bercerai dariku dan akan menikahi perempuan itu. DUARRRRRRR!!!!!! Bagai disambar geledek rasanya jantungku. Aku limbung.

"Baru kali ini aku benar-benar merasakan jatuh cinta. Maaf, sejak dulu aku tak pernah merasa mencintai kamu Arni. Aku mau ceraikan kamu!" Bibir itu berkata dingin, seolah tak sedang berbicara dengan istri yang telah mendampinginya sepuluh tahun ini. Bagaimana mungkin ia mengaku tak mencintaiku. Semuanya begitu manis. Aku tak percaya ia berkata begitu.

"Yudhis, sadarkah apa yang baru saja kamu katakan? Kamu baru saja menjatuhkan talak!"

"Memang begitulah mauku. Akhir-akhir ini aku merasa begitu hidup. Bergairah dan penuh cinta. Aku merasa bahagia dengan Meta. Kita urus perceraian secepatnya. Besok kita ke Pengadilan Agama." Kata-katanya dingin menusuk. "Sore nanti aku akan pindah. Sekarang aku mau numpang tidur sebentar. Di sofa di luar sini juga nggak apa-apa. Aku capek!"

"Mas, apa benar kamu sering ke tempat-tempat dugem?" aku memberanikan diri bertanya.

"Hahhhh?! Dari mana kamu tahu?" teriak Yudhis.

"Toni. Dia bilang beberapa kali lihat kamu. Sedang bersama perempuan dan minum-minum."

"Hmmm, jadi selama ini kamu kirim sepupumu itu jadi mata-mata heh?! Betul. Si Toni nggak salah lihat. Ohhh...pantas saja aku merasa pernah lihat dia."

"Ngapain sih Mas kamu ke tempat-tempat seperti itu?" aku bertanya sambil menahan tangisku yang hampir saja meledak.

"Ah kamu tahu apa tentang tempat seperti itu. Aku merasa senang di sana. Dan apa pula urusanmu. Kita sudah cerai, kamu nggak berhak turut campur lagi. Ini hidupku tahu?!"

"Masya Allah Mas, istighfar Mas, istighfar...kamu lagi lupa diri Mas! Cepatlah bertobat"

"Hhhahhhhhhh...SUDAH DIAM!!!!" bentak Yudhis kasar sambil menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang terletak di ruang tamu. Tak berapa lama kemudian dengkur halusnya terdengar.

Begitu Yudhis terpejam tangisku tumpah ruah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya Yudhis akan jadi seperti ini. Sang manusia sempurna bagi sebagian orang yang mengenalnya. Yudhis, yang semasa muda tak pernah mengenal tempat-tempat seperti itu. Yudhis, yang dulunya selalu membasahi bibirnya dengan berzikir. Yudhis, yang selalu menjaga wudhu, tak mau bersentuhan dengan wanita selain mahramnya. Yudhis, yang dulu lingkungannya selalu orang-orang yang baik.

Tapi sekarang??? Ketika lingkungan berubah, ia pun berubah. Menjadi manusia yang 180 derajat berpindah ke sisi lain dunia. Siapa yang akan mengira.

Aku menangis, membenamkan wajahku ke bantal. Ghazali memelukku dari belakang. "Mama, kenapa nangis?"

"Nggak kok sayang. Nggak papa," aku mengusap air mata yang berurai. Ya Allah, lalu bagaimana nasib Ghazali dan Sabila tanpa ayahnya. Aku tak sangup lagi berpikir.

Di atas sajadah, aku mengadu kepada Rabbku yang Maha Mendengar hambanya yang tengah kesusahan. Aku pun sadar tidak seluruhnya adalah kesalahan Yudhis, pasti aku ada mempunyai andil. Aku terlalu mencintainya, memujanya. Bahkan cintaku padanya mungkin melebihi cintaku pada Allah. Mungkin ini teguran Allah bagiku, yang sering lupa padaNya. Yang menjadikan kecintaanku pada mahluk melebihi segala-galanya.

Satu episode hidupku telah berusaha kulalui dengan tetap berada di jalanNya. Dahulu, aku memutuskan menikah dengan Yudhis berdasarkan istikharah. Pada waktu itu aku ridho dengan agamanya. Sebagaimana pesan Baginda Rasulullah SAW agar tidak menolak pinangan laki-laki yang agamanya baik. Jika tidak maka akan terjadi fitnah di muka bumi. Dengan berbagai pertimbangan itu aku menerima lamaran Yudhis. Jadi salahkah aku kalau semuanya berakhir seperti ini?

Tiada kesempurnaan bagi seorang manusia. Allahlah yang Maha Membolak-balik hati manusia. Salahkulah yang mengharapkan kesempurnaan dari Yudhis, yang menganggap ia adalah segala-galanya tak bercacat. Padahal setiap orang tak pernah tahu bagaimana akhir hidupnya.

Aku masih hidup dan bernafas. Ini bukan akhir hidupku. Aku yakin Allah pasti punya rencana yang lebih baik di balik semua ujian yang diberikannya. Kekalutan dan ketakutanku perlahan sirna. Aku tak perlu khawatir dengan hidupku, hidup anak-anakku kelak. Allah-lah yang menjamin hidupku. Dia tak akan menelantarkan hambaNya.

Inilah takdir yang telah ditetapkan olehNya. Dan ini pasti yang terbaik bagi kami semua. Semoga saja Allah membukakan kembali hati Yudhis yang telah kelam dan mengembalikannya kepada kehidupan yang dulu.

Kupandangi lagi wajah tampan di seberang aku duduk saat ini. Nanti sore ia akan pergi dari rumah ini, pindah ke apartemen Meta, perempuan yang sering bersamanya di tempat dugem. Dan esoknya, kami akan ke Pengadilan Agama, mengurus perceraian.

Tangisku tetap ada, jiwaku tetap remuk redam, tapi hatiku terhibur olehNya. Satu episode hidup telah kulalui. Ketika cinta harus usai maka hidup harus terus berlanjut. Hati kecilku bertanya, kepada siapakah sebenarnya cintaku kupersembahkan? Kepada Yudhis ataukah Allah. Cinta sesungguhnya tak pernah usai. Kuusap lelehan tangisku. Episode lain telah menunggu untuk disusuri.

inspired by true story
sudut pinggir Jakarta




Ketika Cinta Harus Usai (Part 1)

:: Awalnya aku tak menyangka bahwa apa yang kutuliskan dibawah ini adalah sebuah kisah nyata, namun berulangkali kutampis keyakinan bahwa ini kisah nyata tetap saja kenyataan sudah menterjemahkanya menjadi sebuah kisah yang memilukan.. ya muqolibal qulub, qulub tsabit ala dinnika ::

Aku memandang lekat tubuh yang tengah tergolek tidur di sampingku. Tegap dan tampan, tak bercacat. Tubuh yang sangat kukenal, yang telah berada disisiku selama 10 tahun terakhir hidupku. Tubuh seorang yang sangat kuscintai, yang menjadi ayah dari anak-anakku.

Benakku menembus waktu, mengingat masa ketika kuliah dulu. Siapa yang tak pernah mendengar nama Yudhis. Mahasiswa kedokteran dari universitas negeri, ketua senat, aktivis Rohis, kader Lembaga Dakwah Kampus, dan seabrek jabatan lainnya.

Siapa pula yang tak kenal dengannya di kampus. Yudhis sering muncul di depan publik. Kepandaiannya berorasi mengagumkan. Menggugah semangat dan memukau yang mendengarnya.

Aku merasa amat mengenal Yudhis. Kami satu angkatan dan sering bekerja sama dalam banyak kegiatan dan kepanitiaan. Beberapa kali Yudhis menjadi ketua dan aku sebagai sekretaris. Sudah menjadi rahasia umum kalau Yudhis banyak penggemarnya. Fans-nya berasal dari beragam kalangan. Dari cewek gaul sampai aktivis, satu angakatn, hingga adik kelas, sefakultas maupun tidak. Yudhis punya kharisma yang luar biasa. Tutur katanya lembut dan sopan, wajahnya putih bersinar. Nilai plus yang lain adalah IP-nya tetap tingi walau aktivitasnya bejibun.

Menjalani banyak kegiatan bersama dan interaksi berfrekuensi tinggi diantara kami berdua, diam-diam menjadikan aku sebagai salah satu yang berada diantara jajaran para penggemar gelapnya. Simpati yang mulai berkembang dari benih itu kukubur ke sedalam-dalamnya hatiku. Biar ia terpendam di sana dan tak ada yang tahu.

Aku dan Yudhis, kami sama-sama tahu, tak ada kata pacaran dalam kosa kata kami. Apalagi kami berada dalam satu wadah pembinaan. Sekecil apa pun "rasa" yang sempat menyeruak, sesegera mungkin aku enyahkan.

Kadangkala sulit bagiku untuk mengendalikan gejolak hati. Berada pada masa usia yang telah cukup untuk mengenal kata "cinta". Berada pada masa di mana di dunia yang sama masyarakat telah mafhum dengan hubungan cinta di kalangan mahasiswa.

Tidak pernah terlintas sedikitpun aku akan pacaran. Sejak kecil ayah telah menanamkan pendidikan yang keras dan benar. Memproteksi anak-anak perempuannya dari segala kemungkinan fitnah.

Tapi hati ini. Uhh, tak mungkin aku membohongi diri sendiri bahwa aku menyukai Yudhis. Yudhis perhatian padaku? Ah,masa iya? Kutepuk pipiku untuk menyadarkan diri dari keterlenaan sesaat. Ya, Yudhis memang perhatian padaku, tapi juga perhatian ke yang lainnya. Seorang pemimpin dituntut untuk perhatian kepada anak buahnya. Tidak aneh kalau dia sering menghubungiku untuk membicarakan berbagai masalah dalam kegiatan kami.

Aku berada di balik lemari sekretariat, sibuk membereskan file-file Forum Studi. Kala itu sekretariat sepi, hanya ada aku seorang. Tiba-tiba terdengar percakapan dari balik lemari. Aku tak bisa melihat siapa mereka. Mereka pun tak menyadari ada sepasang telinga yang berada di balik lemari.

"Nur, kamu tahu nggak? Kak Yudhis perhatian banget ke aku. Aku nggak terlihat di rapat sekali saja, dia langsung menelepon aku!" seru suara pertama.

"Wah, kamu beruntung banget Mel. Kak Yudhis kan cakep, pinter, kaya lagi. Lumayanlah, biar Kijang tapi keluaran terbaru loh." Suara ke dua menimpali.

"Bagiku dia perfect banget. Kamu lihat sendiri kan tadi bagaimana dia memandangku. Terus senyumnya. Manis banget bo!"

"Memang kalau aku perhatiin, Kak Yudhis ada feeling sama kamu. Tapi saingannya banyak Mel. Tau kan siapa aja yang naksir dia. Putri, Heni, Sinta. Belum lagi kakak-kakak angkatan."

"Masa bodoh sama mereka. Yang penting Kak Yudhis suka sama aku." Terselip nada GR dari suaranya.

Bukannya aku bermaksud menguping, tapi dialog itu tersimak dengan sendirinya. Dari suaranya aku bisa mengenali mereka. Adik tingkat, 3 angkatan di bawahku. Rasanya tak salah juga kalau ia merasa GR. Kadang Yudhis memang terlalu tebar pesona. Berulang kali kudengar para ikhwan menasehatinya tentang masalah ini. Akhirnya Yudhis menyadari bahwa kharismanya telah menyebabkan banyak hati yang jatuh bergelimpangan. Dan ia mulai membangun jarak.


Kini tubuh laki-laki yang berstatus suamiku itu bergerak. Menggeliat perlahan. Lalu tetap mendengkur halus. Kupandangi wajahnya. Hidung mancungnya menurun kepada kedua buah cinta kami, Ghazali dan Sabila. Kata banyak orang, Ghazali adalah fotocopy-an dari ayahnya.

Aku perhatikan bibir suamiku yang berwarna merah. Agak tak lazim memang seorang laki-laki berbibir merah. Masih kuingat saat bibir itu mengucap janji setia. Mitsaqan ghalizha, sebuah perjanjian yang amat tegung dalam pandangan Allah. Betapa mantap ia berucap dalam ijab kabul kami. Mengingatnya menyeruakkan rasa haru. Membuat tetes kecil bergulir di kedua pipiku.


*****


Sore itu aku dan ayah ibuku sedang mengobrol di teras belakang sambil menyamil kue buatan ibu.

"Nduk, sekarang apa rencanamu selanjutnya?" Ayah tetap saja memanggilku dengan 'Nduk', panggilan terhadap anak perempuan dalam bahasa Jawa. "PTTmu sudah selesai. Kamu mau pilih kuliah lagi ambil spesialis atau mau nikah?"

Dahiku mengernyit. Nikah? "Nikah Yah? Mau nikah sama siapa? Nggak ada calon nih!"

"Masih ingat Bram, putranya Om dan Tante Rono? Dulu waktu kecil sering main sama kamu."

Keluarga Ronodipuro, masih priyayi dan punya bisnis besar. Keluarga mereka memang bersahabat dengan keluargaku. Kuingat pula Bram kecil yang sering merebut dan merusakkan mainanku. Aku menganguk-angguk tanda ingat.

"Sekarang Bram sudah jadi Branch Manager di perusahaan papanya. Dia juga punya bisnis otomotif. Bengkel dan tempat modifikasi. Ayah kemarin ke sana. Lumayan besar, pelanggannya juga banyak sepertinya."

"Tante Rono sering ngobrol-ngobrol sama ibu. Dia ingin mencarikan istri untuk Bram. Katanya sudah cari kemana-mana nggak ada yang cocok. Eh setelah ketemu kamu beberapa kali dan ngobrol sama kamu seperti kemarin itu, dia bilang pilihannya jatuh ke kamu Nduk." Ibu menjelaskan sambil menuangkan the dari teko ke dalam cangkir ayah yang sudah kosong. "Tante Rono itu seneng lho sama kamu. Katanya kamu cocok jadi istri Bram."

"Oooo.begitu," ujarku.

"Bagaimana Nduk?" tanya ayah.

"Bagaimana apanya Yah?" tanyaku kembali.

"Kamu mau nggak?"

"Ihhhh Ayah. Nggak bisa dijawab sekarang dong! Harus dipikir-pikir, harus istikharah. Paling tidak ketemu dulu. Belum tentu Bram juga langsung mau kan Yah."

Akhirnya tibalah saat pertemuan itu. Om Rono, Tante Rono, dan Bram datang ke rumah kami tepat pukul tujuh malam. Setelah sedikit basa-basi di ruang tamu, kami lalu berbincang di meja makan, berusaha mengakrabkan antara kedua keluarga.

Bram kini tidak terlalu banyak berbeda dengan Bram kecil. Ketampanan yang telah terlihat di masa kecil kini makin menunjukkan kesempurnaannya. Penampilannya perlente dengan pakaian dari merek terkenal. Tercium pula aroma wangi yang berasal dari tubuhnya. Alamak, gumamku dalam hati, aku saja tak pernah berparfum, kecuali jika mau sholat.

Selama perbincangan itu aku sudah merasa tidak sreg. Entah kenapa. Kalau bicara masalah fisik, Bram memang bak pemain sinetron. Tapi namanya tidak sreg, ya tidak sreg. Hal begini kan tidak bisa dipaksa-paksa.

Ditengah-tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba Om Rono bicara dengan nada keras, "Bram memang harus punya istri seperti Arni. Supaya dia bisa belajar banyak tentang agama dan tidak lagi keluyuran ke café sampai pagi."

Semuanya langsung terdiam. Tante Rono dan Bram memperlihatkan mimik wajah gusar mendengar kata-kata Om Rono. Aku, ayah, dan ibu juga kaget. Ibu berusaha mencairkan suasana yang jadi sedikit dingin dengan menawarkan sup asparagus kepada kami semua.

Oopss, rupanya Bram ini anak café. Nggak heran juga, terlihat dari gayanya. Sepulangnya mereka dari rumah kami, ayah mengatakan akan mencari informasi lebih jauh tentang Bram. Bagaimana kehidupan dan pergaulannya.

Om dan Tante Rono cukup sholeh. Tapi jaman sekarang orang tua tidak bisa dijadikan standar bagi kesholehan seorang anak. Anak kyai belum tentu jadi kyai. Anak perampok belum tentu perampok juga.

Aku pasrah, memohon kepada Allah diberi jodoh yang terbaik bagiku. Aku percaya karena Dia telah berjanji dalam firmannya Surah An-Nuur 26, "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula."

Kalau Bram bukan jodohku, pasti Allah akan tunjukkan jalannya, dan begitu pula jika sebaliknya.

Kabar itu justru datang dari Tante Rono sendiri. Bukan dari siapa-siapa yang menyebarkan gossip. Bukan pula dari Toni, sepupuku yang diberi tugas ayah untuk mencari tahu tentang Bram.

Tante Rono berkunjung ke rumah sambil bercucuran air mata lalu mencurahkan isi hatinya pada ibu. "Jeng, hancur sudah hati saya. Mau ditaruh dimana wajah dan kehormatan keluarga Ronodipuro." Isak Tante Rono sesenggukan. "Memang Bram anaknya susah diatur. Tapi saya tak menyangka semuanya jadi begini. Rasanya kami sudah berusaha mendidiknya dengan benar."

Ibu menenangkan sambil mengusap-usap pundak Tante Rono. "Tenanglah Mbakyu. Yang sabar. Memang ada apa tho?!" Sekonyong-konyong tangisnya malah jadi tak terbendung. Aku bangkit menyodorkan tissue kepada Tante Rono.

"Bram itu Jeng..dia.dia.dia.menghamili sekretarisnya!" Seusai keterbata-bataannya, Tante Rono melanjutkan tangisnya. "Perempuan itu menuntut untuk dinikahi. Kami tak bisa menolak."

"Astaghfirullahaladzhim!!" ujarku dan ibu bersamaan.

Benarlah ini jawaban dari Allah. Bram bukan jodohku. Aku menatap trenyuh kepada Tante Rono. Kasihan, pasti berat sekali bebannya menerima kenyataan darah dagingnya menghamili anak orang di luar nikah. Semoga Bram benar-benar bertobat dan mau memperbaiki dirinya.

"Saya nggak enak sama Jeng, sama Arni," kata Tante Rono setelah tangisnya mereda. "Padahal rencana sudah mau lamaran. Tadinya saya berharap sekali kita bisa besanan. Arni pasti bisa membimbing Bram untuk menjadi lebih baik."

"Sudahlah Mbakyu. Kita tidak apa-apa kok. Keluarga kami tetap akan menjadi sahabat keluarga Mbakyu. Semoga jodoh Bram inilah yang terbaik. Mbakyu yang tabah ya!"

Batalnya perjodohan antara aku dan Bram tidak memberikan dampak apapun pada kehidupanku. Aku tetap memohon jodoh kepada Rabb-ku Yang Maha Mendengar.

Tak sampai sebulan kemudian, dengan tak disangka-sanga, datanglah serombongan keluarga ke rumahku. Mereka hanya punya satu tujuan, melamarku.


Bersambung...