Semoga dapat direnungkan dan menjadi sebuah pembelajaran untuk kita sebagai hamba-hamba Allah yang kecil dan kotor.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat
: 10)
Bagai sebuah pelangi yang tak akan indah bila tidak bersatu padu,
bagai sebuah bintang yang tak akan indah bila hanya menampakkan
dirinya sendiri. Pelangi, meskipun berbeda warna tetapi tetap saja
elok dan menawan apabila disatukan. Bintang, meskipun dibatasi
jarak-jarak yang tidak dekat tetapi tetap saja indah dan menakjubkan,
akan selalu terang dan menerangi kabut dan gelapnya malam.
Bahwa setiap nafas kehidupan yang kita hela adalah sebuah anugerah
yang tiada tandingannya, begitu pula dengan sebuah ukhuwah islamiyah,
sebuah barisan kokoh yang tak akan rapuh seperti sebuah tembok baja
yang lebih kuat dari tembok RRC sekalipun, Kenapa bisa? karna kekuatan
ini adalah kekuatan Allah, tasbih semesta alam dipersembahkan hanya
untuk-Nya.
“dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi,
niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah
telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Al-Anfal : 63)
***
Mungkin seperti itulah gambaran sebuah ukhuwah yang telah terjalin
dan terikat, akan saling menguatkan bukan melemahkan, akan saling
membangun bukan menjatuhkan, akan saling menyayangi bukan menyakiti.
Sekali lagi, adalah kekuatan ukhuwah yang didasari rasa iman kepada
Allah-lah yang membuat itu. Karna iman itu mengikatkan kita dalam
persaudaraan yang menembus batas ruang dan waktu. Iman menyatukan kita
dalam doa-doa yang selalu kita bagi pada sesama mukmin. Sebagaimana
tanpa kita sadari, tiap detik berjuta lisan melafalkan doa untuk kita.
Bahkan tanpa kita sadari, para nenek-nenek moyang berdoa untuk
cicit-cicitnya, dan para anak cucu berdoa untuk leluhurnya. Mereka
mungkin tak pernah berjumpa, terpisah oleh ruang dan waktu. Tapi,
mereka bersatu dalam doa. Dalam iman. Dalam persaudaraan akbar yang
melintasi kutub, gurun, pegunungan, lautan, hutan, dan zaman.
“Allahummaghfir, lil muslimiina wal muslimaat. Wal mu’miniina na wal mu’minaat…”
Ya Allah, ampunilah para mukmin lelaki dan perempuan. Ampunilah
mereka yang berserah diri, yang pria maupun wanita. Yang masih hidup
ataupun telah wafat mendahului kami. Sesungguhnya Engkau Maha
Mendengar, Maha Dekat. Duhai Dzat yang memenuhi segala hajat, ampunilah
kami.
Sebuah untaian nada sederhana dari Izzatul Islam yang diambil
liriknya dari sebuah doa rabithoh berikut ini sungguh akan sangat
menyentuh dan mengingatkan kita kembali pada sebuah tali agama Allah,
ukhuwah islamiyah.
“Sesungguhnya engkau tahu bahwa hati ini tlah berpadu berhimpun
dalam naungan cintaMu. Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam
perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatannya,
kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya. Terangilah dengan
cahaya-Mu yang tiada pernah padam, ya Rabbi bimbinglah kami.
Lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya
tawakkal padaMu, hidupkan dengan ma’rifat-Mu, matikan kami syahid di
jalan-Mu, Engkaulah Pelindung dan Pembela.”
Salim A.Fillah dalam bukunya yang menakjubkan Dalam Dekapan Ukhuwah
menyanyikan kalimat sastranya. “Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil
cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga,
menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari
membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah.”
maka, INI AKAN MENJADI CERITA TENTANG KITA.. Bukan tentang mereka..
Dalam rajutan Ukhuwah, Benang kusut pun mampu kembali diurai..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar