Rabu, 31 Oktober 2012

-Hati yang Tersalah-


Sore itu di beranda rumahnya, Farah memandangi pemandangan alam yang menghiasi ufuk barat kota kelahiranya. Pagi hingga menjelang sore matahari tak juga menampakkan wajahnya. Meskipun begitu, dia selalu menikmati suasana sore kotanya dengan atau tanpa matahari. Sesekali farah tersenyum. Tak terasa umurnya kini sudah hampir mendekati seperempat abad. Dia sudah tidak lagi berumur belasan tahun yang suka memandangi bintang sambil berbaring di atap genting rumahnya. Farah masih ingat betul bagaimana senangnya suasana hati yg ia miliki saat itu. Bintang yang berasal dr ratusan bahkan ribuan tahun cahaya bisa begitu indah dilihat. Bintang yg konon dia baca dr sebuah penelitian, bahwa yg saat ini ia lihat bisa saja bintang yg berasal dari 3 tahun sebelumnya. Farah begitu merindukan masa2 itu. Sayangnya, kerlipan cahaya langit itu kini tak bisa lagi ia temukan.
            Farah selalu berusaha merenungi setiap hal yg terjadi di hidupnya. Walau terkadang ia pun bisa terlupa. Kini, ada satu hal yang mengusik jiwa dan kalbu nya. Untuk sesaat, untuk beberapa waktu dia tak tersadar. Tapi sore itu, sejuknya udara sore itu membangunkanya. Menyadarkanya tentang siapa dia sebenarnya. Farah adalah seorang pecinta dakwah. Walau orang-orang lebih sering menyebutnya aktivis dakwah. Tapi farah menganggap pilihannya pada jalan ini karna kecintaan. Jauh sebelum ia mengenal kata pergerakan ia hanya mencintai satu hal, menemukan keindahan islam dan menebarkanya pada setiap jiwa adalah kebahagiaan. Itulah sebabnya ia lebih suka meyebut dirinya pecinta dakwah.
            Sore itu bulir-bulir bening jatuh dari kelopak matanya saat ia memandang langit.  “Allah, Aku bersalah padaMU” bisiknya pada udara yg berhembus.  “Aku telah mengkhianatiMU atas apa yg kulakukan” bulir-bulir itu semakin deras mengalir. Farah merasa dia telah menaruh hati pada seorang Ikhwan. Ini bukan pertama kalinya tapi ini adalah yg kedua kalinya. Walaupun yg saat ini dia tidak merasa yakin bahwa ia telah jatuh cinta. sebelumya  Farah pernah menaruh cinta yang amat dalam pada seorang ikhwan. Namun cinta itu tak pernah mengusiknya. Karna jarak yang cukup jauh, komunikasi yg dapat dikatakan jarang, juga aktivitas kecintaanya pada dakwah yg begitu padat begitupun dengan sang ikhwan. Cinta itu pula yg dia pendam selama kurang lebih 4 tahun. Cinta itu tak pernah dia kotori dg apapun. Farah hanya memendamnya. Dan dia merasa sudah cukup lelah untuk terus menyimpanya. Karna bila bertemu dengan sang ikhwan dalam beberapa aktivitas dakwah farah merasa ada yg salah dlm dirinya. Ia takut tdak lurus dalam niat dan tidak optimal dalam aktivitasnya. Farah sudah berkali2 mencoba untuk membuang semua rasa yg dia miliki karna ia tak ingin ada sedikitpun noda yang mengotori jalan dan aktivitas dakwahnya. Namun sebanyak ia mencoba tetap saja rasa itu tak juga hilang hingga tahun ke 4 pun tiba.
            Farah menceritakan tentang perasaanya pada salah satu sahabatnya. Dan sang sahabat berkata dg bijak “bukankah aktivis dakwah adalah orang-orang yang memendam rindu ukh?”. Kata-kata itu membuat farah menangis. “Benarkah itu? Tapi harus sampai kapan?” farah bertanya pada hatinya.  Farah tak ingin cintanya berujung pada penantian. Karna dia sadar, dalam perkara ini Cinta memang bukan penantian!!, Farah juga sadar bahwa Sang Maha pemilik cinta sudah menetapkan pasangan bagi setiap jiwa. Dia merasa sangat hina untuk terus berharap dan terus berharap. Dia juga sadar bahwa dirinya tidak sekualitas ibunda khadijah yang mampu menyampaikan niat baiknya dg penuh izzah dan Iffah. Ikhwan yang dia simpan di hatinya selama 4 tahun adalah ikhwan yg begitu mengagumkan baginya. Farah tak pernah menemukan ikhwan yang serupa dimanapun ia berada. Aktivitas dakwahnya slalu membuat farah bergelora untuk bergerak lebih banyak dr dirinya. Pemahaman agamanya selalu membuat farah terpacu untuk menggali dan terus menggali islam di semua sisinya. Kecerdasanya dlm akademik selalu membuat farah merasa malu betapa bodohnya ia menjadi seorang muslim meskipun mereka berbeda jalur keilmuan. Farah memang selalu berharap dia yang akan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya. Cukup karna iman dan pemahaman agamanya farah merasa itu sudah lebih dr apa yg dia butuhkan. Tapi lagi2 harapan itu tiba2 disadarkan. Ikhwan tersebut terlalu sempurna untuk mendapatkan akhwat sekualitas dirinya.
            Rasa lelah itu membuatnya tiba2 merasa kehadiran org lain mungkin bisa membantunya mengalihkan rindunya pada sang ikhwan. namun, farah salah langkah! Dia kini terjebak pada hal2 cemen yg tidak penting. Tp itu mungkin bagi org lain, mungkin bagi ikhwah lainya! tapi Bagi farah ini masalah serius!. Dia tak ingin ada yg kotor sedikitpun dalam hatinya. Dia merasa ikhwn yg dia anggap menjadi sahabat barunya kini  menaruh rasa yg lebih dr sekedar sahabat. Dan farah menaruh curiga pada hatinya, jangan-jangan ia pun demikian. Itulah sebabnya ia merasa hatinya lagi2 telah berkhianat pada rabb nya. Farah merasa heran dan bertanya pada hatinya “ jika ini hina, jika fitrah ini salah mengapa ia harus merasakanya? Mengapa Allah tidak mencabutnya saja?” farah mengajukan protes dalam kelemahanya. Namun beberapa saat kemudian ia teringat dengan perkataan murobbiahnya, “Allah akan menguji titik kelemahan setiap hambanya sampai dia lulus”. Ini mungkin salah satu titik kelemahan farafisyah. Ia tersadar mungkin kelonggaran aktivitasnya membuat dia menjadi seperti ini.
Farah berlari dan terus berlari sejauh yg dia bisa agar syaitan2 berwujud cinta itu tak mampu menjamahnya lagi. Entah akan seperti apa pada akhirnya. Namun farafisyah terus berusaha mengepakkan sayapnya sejauh yg ia bisa. Mengunjungi ladang2 kebaikkan hingga ia tak mampu melakukan kemudhorotan yang melukai rabb nya. Farah bukan malaikat dan ia sadar akan hal itu. Karnanya farah sadar bahwa semua adalah hasil skenario rabbnya dan hanya kepada Allah lah farah memohon perlindungan agar cintanya tak bermuara pada tempat yang salah. Sekali lagi meskipun farah tak tau akan seperti apa ujunya nanti. Farah akan tetap mengepakkan sayapnya. Dan terus mengepakkan sayapnya. Sejauh yg dia bisa. Semampu yang dia bisa.. Allah pasti akan memberikan takdir terindah dalam hidupnya entah dg ikhwan yg dicintainya selama 4 tahun ataukah dg ikhwan yg baru menjadi sahabatnya tersebut atau mungkin bukan keduanya. Yg pasti farah tak ingin hatinya berkhianat. Dan tak ingin jodohnya dilemparkan Allah dengan cara yg hina..(SAJ)