Sore
itu di beranda rumahnya, Farah memandangi pemandangan alam yang menghiasi ufuk
barat kota kelahiranya. Pagi hingga menjelang sore matahari tak juga
menampakkan wajahnya. Meskipun begitu, dia selalu menikmati suasana sore
kotanya dengan atau tanpa matahari. Sesekali farah tersenyum. Tak terasa
umurnya kini sudah hampir mendekati seperempat abad. Dia sudah tidak lagi
berumur belasan tahun yang suka memandangi bintang sambil berbaring di atap
genting rumahnya. Farah masih ingat betul bagaimana senangnya suasana hati yg
ia miliki saat itu. Bintang yang berasal dr ratusan bahkan ribuan tahun cahaya
bisa begitu indah dilihat. Bintang yg konon dia baca dr sebuah penelitian,
bahwa yg saat ini ia lihat bisa saja bintang yg berasal dari 3 tahun
sebelumnya. Farah begitu merindukan masa2 itu. Sayangnya, kerlipan cahaya
langit itu kini tak bisa lagi ia temukan.
Farah selalu berusaha merenungi
setiap hal yg terjadi di hidupnya. Walau terkadang ia pun bisa terlupa. Kini,
ada satu hal yang mengusik jiwa dan kalbu nya. Untuk sesaat, untuk beberapa
waktu dia tak tersadar. Tapi sore itu, sejuknya udara sore itu membangunkanya.
Menyadarkanya tentang siapa dia sebenarnya. Farah adalah seorang pecinta
dakwah. Walau orang-orang lebih sering menyebutnya aktivis dakwah. Tapi farah
menganggap pilihannya pada jalan ini karna kecintaan. Jauh sebelum ia mengenal
kata pergerakan ia hanya mencintai satu hal, menemukan keindahan islam dan
menebarkanya pada setiap jiwa adalah kebahagiaan. Itulah sebabnya ia lebih suka
meyebut dirinya pecinta dakwah.
Sore itu bulir-bulir bening jatuh
dari kelopak matanya saat ia memandang langit. “Allah, Aku bersalah padaMU” bisiknya pada
udara yg berhembus. “Aku telah
mengkhianatiMU atas apa yg kulakukan” bulir-bulir itu semakin deras mengalir.
Farah merasa dia telah menaruh hati pada seorang Ikhwan. Ini bukan pertama
kalinya tapi ini adalah yg kedua kalinya. Walaupun yg saat ini dia tidak merasa
yakin bahwa ia telah jatuh cinta. sebelumya
Farah pernah menaruh cinta yang amat dalam pada seorang ikhwan. Namun
cinta itu tak pernah mengusiknya. Karna jarak yang cukup jauh, komunikasi yg
dapat dikatakan jarang, juga aktivitas kecintaanya pada dakwah yg begitu padat
begitupun dengan sang ikhwan. Cinta itu pula yg dia pendam selama kurang lebih
4 tahun. Cinta itu tak pernah dia kotori dg apapun. Farah hanya memendamnya.
Dan dia merasa sudah cukup lelah untuk terus menyimpanya. Karna bila bertemu
dengan sang ikhwan dalam beberapa aktivitas dakwah farah merasa ada yg salah
dlm dirinya. Ia takut tdak lurus dalam niat dan tidak optimal dalam
aktivitasnya. Farah sudah berkali2 mencoba untuk membuang semua rasa yg dia
miliki karna ia tak ingin ada sedikitpun noda yang mengotori jalan dan
aktivitas dakwahnya. Namun sebanyak ia mencoba tetap saja rasa itu tak juga
hilang hingga tahun ke 4 pun tiba.
Farah menceritakan tentang
perasaanya pada salah satu sahabatnya. Dan sang sahabat berkata dg bijak
“bukankah aktivis dakwah adalah orang-orang yang memendam rindu ukh?”.
Kata-kata itu membuat farah menangis. “Benarkah itu? Tapi harus sampai kapan?”
farah bertanya pada hatinya. Farah tak
ingin cintanya berujung pada penantian. Karna dia sadar, dalam perkara ini
Cinta memang bukan penantian!!, Farah juga sadar bahwa Sang Maha pemilik cinta
sudah menetapkan pasangan bagi setiap jiwa. Dia merasa sangat hina untuk terus
berharap dan terus berharap. Dia juga sadar bahwa dirinya tidak sekualitas
ibunda khadijah yang mampu menyampaikan niat baiknya dg penuh izzah dan Iffah.
Ikhwan yang dia simpan di hatinya selama 4 tahun adalah ikhwan yg begitu
mengagumkan baginya. Farah tak pernah menemukan ikhwan yang serupa dimanapun ia
berada. Aktivitas dakwahnya slalu membuat farah bergelora untuk bergerak lebih
banyak dr dirinya. Pemahaman agamanya selalu membuat farah terpacu untuk
menggali dan terus menggali islam di semua sisinya. Kecerdasanya dlm akademik
selalu membuat farah merasa malu betapa bodohnya ia menjadi seorang muslim
meskipun mereka berbeda jalur keilmuan. Farah memang selalu berharap dia yang
akan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya. Cukup karna iman dan pemahaman
agamanya farah merasa itu sudah lebih dr apa yg dia butuhkan. Tapi lagi2
harapan itu tiba2 disadarkan. Ikhwan tersebut terlalu sempurna untuk
mendapatkan akhwat sekualitas dirinya.
Rasa lelah itu membuatnya tiba2
merasa kehadiran org lain mungkin bisa membantunya mengalihkan rindunya pada
sang ikhwan. namun, farah salah langkah! Dia kini terjebak pada hal2 cemen yg
tidak penting. Tp itu mungkin bagi org lain, mungkin bagi ikhwah lainya! tapi Bagi
farah ini masalah serius!. Dia tak ingin ada yg kotor sedikitpun dalam hatinya.
Dia merasa ikhwn yg dia anggap menjadi sahabat barunya kini menaruh rasa yg lebih dr sekedar sahabat. Dan
farah menaruh curiga pada hatinya, jangan-jangan ia pun demikian. Itulah
sebabnya ia merasa hatinya lagi2 telah berkhianat pada rabb nya. Farah merasa
heran dan bertanya pada hatinya “ jika ini hina, jika fitrah ini salah mengapa
ia harus merasakanya? Mengapa Allah tidak mencabutnya saja?” farah mengajukan protes
dalam kelemahanya. Namun beberapa saat kemudian ia teringat dengan perkataan
murobbiahnya, “Allah akan menguji titik kelemahan setiap hambanya sampai dia
lulus”. Ini mungkin salah satu titik kelemahan farafisyah. Ia tersadar mungkin
kelonggaran aktivitasnya membuat dia menjadi seperti ini.
Farah berlari dan terus berlari sejauh yg dia bisa agar
syaitan2 berwujud cinta itu tak mampu menjamahnya lagi. Entah akan seperti apa
pada akhirnya. Namun farafisyah terus berusaha mengepakkan sayapnya sejauh yg
ia bisa. Mengunjungi ladang2 kebaikkan hingga ia tak mampu melakukan
kemudhorotan yang melukai rabb nya. Farah bukan malaikat dan ia sadar akan hal
itu. Karnanya farah sadar bahwa semua adalah hasil skenario rabbnya dan hanya
kepada Allah lah farah memohon perlindungan agar cintanya tak bermuara pada
tempat yang salah. Sekali lagi meskipun farah tak tau akan seperti apa ujunya
nanti. Farah akan tetap mengepakkan sayapnya. Dan terus mengepakkan sayapnya.
Sejauh yg dia bisa. Semampu yang dia bisa.. Allah pasti akan memberikan takdir
terindah dalam hidupnya entah dg ikhwan yg dicintainya selama 4 tahun ataukah
dg ikhwan yg baru menjadi sahabatnya tersebut atau mungkin bukan keduanya. Yg
pasti farah tak ingin hatinya berkhianat. Dan tak ingin jodohnya dilemparkan
Allah dengan cara yg hina..(SAJ)