Sesejuk
angin yang berhembus..
kala
tersadar nikmat kasihmu..
tumbuhkan
benih syukurku..
Ya allah
yang maha pengasih..
bimbinglah
jalan hidupku..
tuk
s’lalu tuju pada ke ridhoan MU..
_Brothers_
Lagu yang begitu indah untuk menyambut
sang mentari. Meski embun masih begitu malu bersembunyi di belakang dedaunan.
Meski kokok ayam telah berlalu dalam dekapan kesejukan. Tak ada pagi yang tidak
indah sama seperti malam yang telah dilukiskan dengan kesempurnaan keindahan.
Pagi ini semua memulai setiap nafas hidupnya
dengan bergerak. Ya,, karna gerak adalah keniscayaan dari sebuah harap. Namun
hanya yg menyertai Asma Nya saja yang telah di jamin baginya kebahagiaan. Hanya yang istiqomah saja yang mendapatkan
kemuliaan dari setiap harapnya. Bukankah firman Allah berikut ini sangatlah
indah untuk mengokohkan setiap bulir-bulir harapan kita,
“sesungguhnya
orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap
Istiqomah, tidak ada rasa khawatir bagi mereka dan mereka tidak pula bersedih
hati” (Al-Ahqaf:13).
Indah bukan?
Ya,, Allah menjamin kebahagiaan dan ketenangan bagi kita yg bersyahadat
dan beristiqomah menapak diatas jalan keridhoaNYA. Ada garansi hidup yang Allah
berikan bagi setiap insan yang memahami kalimat syahadatnya.
Ketika berbicara tentang sebuah harap atau
yang lebih menakjubkan yang kita sebut dengan Mimpi, ada satu kisah di zaman
Rasulullah yg telah diukir sejarah dengan begitu indah. Kisah yang selalu saja
membuat mata ini tak kuasa membendung Kristal-kristal bening yang telah lama
tersimpan di kantungnya. Eh ana
salah,, Tidak hanya satu kisah namun Semua kisah yg telah di torehkan sejarah
membuat diri ini merasa belum menjadi muslim sebenar-benarnya dan seutuhnya.
Kemuliaan mereka, kemurniaan iman mereka, ketundukan jiwa mereka dan keutuhan
perjuangan serta pengorbanan mereka.. ah begitu jauhnya diri ini.. sangat jauh.
tapi salah satu kisah yg akan disampaikan ini menjadi salah satu penyemangat
untuk menjadikan keimanan diri ini utuh sempurna. Meski tak sesempurna mereka.
7 abad lamanya islam berharap akan
kemenangan sebuah kota yang begitu sulit di taklukkan hingga lahirlah seorang
pemuda yang cita-cita nya melebihi batas usianya. Usianya baru 23 tahun namun
mimpinya menjulang melewati mimpi-mimpi pemuda seusianya. Kalau kita mungkin di
usia itu masih bergelut dengan keinginan diri kita sendiri, atau bahkan ada
yang masih menggantungkan hidupnya pada orang tua nya. Tapi tidak dengan pemuda
yang satu ini. Bagaimana tidak, 7 abad sudah para pasukan islam yang telah
dipimpin oleh pemimpin-pemimpin berkualitas tak hanya dari pemikiranya namun
juga keimananya, tak mampu menaklukan kota yang di pimpin oleh heraklius itu. Ya,, kota itu bernama
Konstantinopel dan pemuda hebat yang dicatat sejarah itu bernama Muhammad Al
Fatih.
Fatih kecil pernah di Tanya oleh
sang guru, “jika kau diminta memilih untuk menaklukkan salah satu kota antara
konstantinopel atau Roma, mana yang kau pilih untuk kau taklukkan lebih dahulu
ya fatih?” mendengar pertanyaan sang mufti,
ingatan fatih kecil terbang
hinggap untuk mengingatkanya akan sebuah hadist yang pernah disampaikan
Rasulullah ketika beliau diberikan pertanyaan yang sama, “kota Heraklius lebih
dahulu. Yang menaklukkanya adalah sebaik-baiknya pasukan dan pemimpinya adalah
sebaik-baiknya panglima”. Bermula dari kalimat hadist yang sederhana inilah
lahir seorang panglima luar biasa. Fatih kecil memiliki mimpi yang begitu murni
namun begitu pasti. Mimpi yang dicatat sejarah sebagai keniscayaan dr sebuah
harap. Mimpi yang membawanya memiliki kemuliaan, menjadi seorang prajurit dan
itupun sebaik-baiknya pasukkan atau menjadi seorang pemimpin dan itu adalah
sebaik-baiknya panglima. Bagi fatih kecil tak masalah menjadi pasukkan ataupun
pemimpin karna keduanya adalah sebuah keistimewaan yang Allah kalungkan dalam
hidupnya. Dan Allah mengalungkan baginya sebuah kepemimpinan dan ia telah
berhasil menjadi sebaik-baiknya panglima karna mimpi 7 abad itu berhasil
diwujudkan oleh kemurnian Mimpinya, ketulusan jiwanya dan kekokohan Imannya.
Malam
itu di sepertiga malam terakhir saat tibanya masa penyerbuan yang menakjubkan,
sang panglima berdiri diatas sebuah mimbar dan meminta semua pasukkanya untuk
berdiri. Kemudian meluncurlah kalimat-kalimat luar biasa yang menjadikanya
pantas menjadi seorang panglima dan menjadikan konstantinopel layak jatuh ke
tanganya. Ke tangan pasukkan yang di pimpinya. “ wahai saudara-saudaraku di
atas jalan Allah” tuturnya dengan penuh semangat, “ Amanah yang dipikulkan ke
pundak kita menuntut hanya yang terbaik lah yang layak untuk mendapatkanya.
Tujuh Ratus tahun lamanya nubuwat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid
tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya.” Kemudian pertanyaan menakjubkan itu meluncur
pesat dan tegas. Sang panglima bertanya pada pasukkanya,
“aku katakan kepada kalian sekarang,
yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak masa balighnya, silahkan duduk!”
Begitu sunyi. Tak ada satupun
pergerakkan.
“ yang pernah meninggalkan puasa
Ramadhan, Silahkan Duduk!”
Namun sekali lagi tak ada yang
bergerak. Tetap dalam kesunyian.
“ yang pernah mengkhatamkan
Al-Qur’an melebihi sebulan, silahkan duduk!”
Kali ini, beberapa orang perlahan
menekuk lututnya , berlutut di iringi tetesan air mata.
“yang pernah kehilangan hapalan
Al-Qur’an Nya silahkan Duduk!”
Kali ini lebih banyak yang
mengeluarkan buliran-buliran air matanya. Menangis sedih dan sangat pilu karna
khawatir tak ikut menjadi bagian dari pasukan dan mereka pun duduk dengan
lemas.
“yang pernah meninggalkan shalat
malam sejak masa balighnya, silahkan duduk!”
Kini hanya beberapa yang masih
sanggup berdiri diiringi kecemasan. Dada yang berdegup kencang. Tubuh yang
menggetar.
“ yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul bidh , silahkan duduk!”
Kali ini semuanya terduduk lemas dan
hanya ada satu orang yang masih sanggup berdiri. Dia adalah sang penanya itu
sendiri. Sang sultan. Sang panglima. Muhammad al fatih.
Al-
fatih begitu luar biasa mewujudkan mimpinya. Dia begitu sempurna merenda
harapanya, merajut mimpinya, dan merencanakan cita-citanya. Ketika perang tiba
hal yang mustahil dimata para pasukanya menjadi yang mungkin dimatanya.
Melumuri kayu gelondongan dengan lemak sapi dan disebrangkanya kapal-kapal
perang itu lewat darat. Ya,, sekali lagi lewat darat!! bukan di perairan
seperti biasanya kapal-kapal dilayarkan.
Begitulah
mimpi seharusnya. Dari al fatih lah kita belajar menterjemahkan kata mimpi
dengan sebenar-benarnya arti. Allah
mempersilahkan kepada kita untuk bermimpi sebanyak-banyaknya. Semau yang kita
mau. Seingin yang kita inginkan. Sesuka yang kita suka. Tentunya ada sebuah
pembeda di dalamnya. Ya,, mimpi seorang yang beriman dan yang tidak beriman
inilah yang menjadi pembedanya. Kalau saat itu ana berada di antara pasukkan Al-fatih mungkin ana pun akan menjadi bagian yang gugur dari kriteria-kriteria yang
disampaikan Al-fatih. Untuk itulah ana
belajar dari kisah ini untuk senantiasa menjadi pribadi yang berkualitas dalam
penghambaan terhadap NYA.
Seperti
halnya Al- fatih, mimpinya bukan untuk dirinya sendiri. Bukan semata-mata karna
obsesi semu. Al-fatih bermimpi untuk masa depan generasi sesudahnya. Ia
bermimpi untuk mewujudkan mimpi orang-orang soleh yang sudah berusaha
mewujudkanya sebelumnya. Mimpi al fatih begitu murni dan bening. Begitulah
seharusnya kita bermimpi. Mimpi kita bukan hanya untuk diri kita sendiri. Tapi
tentang bagaimana mimpi itu menjadi bermanfaat untuk sesama. Menjadi harapan masa depan.
Ada
dari kita yang mungkin bermimpi memiliki perusahaan sendiri, ada yang bermimpi
mengelilingi dunia, ada yang bermimpi mendapatkan beasiswa studi di negeri sebrang nan jauh disana, ada yang bermimpi
menjadi bagian dari petinggi-petinggi parlemen, Menjadikan perkumpulan atau
organisasinya lebih besar, menjadi
penulis terkenal, menjadi pengusaha sukses dan sebagainya. Ana tidak mengatakan semua mimpi itu mustahil atau bahkan salah.
Sekali lagi tidak akan ana katakan
demikian karna Allah pun membebaskan kita bermimpi sesuka yang kita suka. Semau
yang kita mau dan seingin yang kita inginkan. Namun alangkah baiknya kita telusuri lebih dalam tentang mimpi-mimpi
kita. Dan mengoreksinya.
Dalam sebuah mimpi tentu kita punya
visi bukan? Sama halnya dengan mimpi Muhammad Al-fatih, mimpinya bukan hanya
pada batas menjadi sebaik-baiknya pasukkan atau sebaik-baiknya panglima. Tapi
tentang bagamaina mewujudkan mimpi Rasulullah dan para amirul mukmin 700 tahun
silam. juga mewujudkan mimpi kemuliaan
islam untuk beratus-ratus tahun kedepan. Ya,, dalam retasan mimpi kita
alangkah baiknya kita meluruskan Visi kita.
Mimpi-mimpi kita sudah seharusnya
tidak hanya menjadi miliki kita atau hanya untuk kita perseorangan. Tapi
bagaimana mimpi kita dapat terwujud untuk mewujudkan mimpi-mimpi lainya (red.
Mimpi orang lain). Bagaimana mimpi kita terwujud untuk memberikan harapan pada
banyak orang lainya. Itulah yang menjadikan setiap mimpi orang-orang yang
beriman berbeda. Seperti halnya al fatih, ketika merenda mimpi-mimpi kita dlm
sebuah perencanaan, kekokohan iman adalah hal yang paling utama. Pernahkah kita
atas dasar alasan SANG mimpi, kita perlahan mundur dari panggung Dakwah
Ilallah? Mundur dari proses terbina dan membina? Pernahkah kita ketika menapak
mewujudkan sang mimpi kemudian menganggap amalan sunah menjadi nomor kesekian
untuk dilakukan? Atau pernahkah kita karna begitu lelahnya mengejar sang mimpi
akhirnya menganggap akhirat tidak menjadi prioritas atau menganggap tidak
memberikan pengaruh signifikan atas terwujudnya mimpi kita? Tidak..!! sungguh
tidak demikian seharusnya..!
Saudaraku, kemurnian dari visi dan
kejelasan dari tindakanya sangat penting untuk kita muhasabahi kembali. Adakah
dari mimpi-mimpi kita yang hanya untuk diri kita sendiri atau adakah dari
mimpi-mimpi kita yang mungkin juga untuk mimpi orang lain namun kita melupakan
siapa sebenernya yang berkuasa mewujudkanya. Ya,, Allah SWT adalah alasan
mengapa kita harus mengejar mimpi-mimpi kita dan memurnikan Visi nya.
Sedikitpun kita tidak bisa menjadikan mimpi-mimpi kita sebagai Alasan untuk
meninggalkan Allah dan merendahkan kualitas kemusliman kita. Jadikanlah diri
kita memang layak mendapatkan Mimpi-mimpi kita. Mimpi-mimpi yang kita rentas
diatas jalan keimanan dengan pengoptimalan penghambaan kepadaNYA. Karna kalau
mimpi kita memiliki Visi yang murni dan jelas karenaNYA, percayalah seluruh
penghuni langit dan bumi akan membantu setiap tapak langkah kaki kita dalam
mewujudkanya. Maka, berMIMPI lah dengan sebenar-benarnya mimpi. Bermimpi bukan
hanya sekedar MIMPI…
..kadang iman kita yang terlalu rapuh untuk memahami keinginan ALLAH yang
sederhana..



